Jenderal (Pur) Pramono Edhie Wibowo : Pemimpin Negara Harus Pancasilais

Oleh : Prayogi Waluyo

Jenderal  (Pur)  Pramono Edhie Wibowo

Jenderal (Pur) Pramono Edhie Wibowo


“Kalau ada satu dua dari butir-butir Pancasila ditinggalkan atau tidak dilaksanakan, itu artinya tidak Pancasilais. Maka dia tidak layak lagi jadi pemimpin,” kata Jenderal (Pur) Pramono Edhie Wibowo, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD)
Semua elemen masyarakat termasuk petinggi partai dan jajaran birokrat harus mempertanyakan kembali, sejauh mana konsistensi komitmennya terhadap Pancasila. Apakah masih utuh mengemban wasiat yang terkandung di dalam kelima butir Pancasila atau ada yang mulai ditinggalkan?. Evaluasi ini perlu dipertanyakan karena Pancasila tidak boleh lepas sebagai pijakan di dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Tidak ada pedoman lain yang pantas sebagai landasan di dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara kecuali Pancasila. Karena itu para pemimpin di negara ini perlu kembali mawas diri , sejauh mana konsistensi komitmennya terhadap Pancasila. Kalau ada satu dua dari butir-butir Pancasila ditinggalkan atau tidak dilaksanakan, itu artinya tidak Pancasilais. Maka dia tidak layak lagi jadi pemimpin,” kata Jenderal (Pur) Pramono Edhie Wibowo, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) yang baru saja resmi menjadi anggota Partai Demokrat, dan bakal tampil pada konvensi partai tersebut dalam menjaring kandidat presiden pada Pemilu 2014 mendatang.

Pramono Edhie menyatakan hal itu di tengah peserta sarasehan Peran Organisasi Kemasyarakatan dalam Mengawal Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Gedung L’ Fash, jalan Manyar Kartika Barat 7, Surabaya, Sabtu (24/8/2013). Diselenggarakan PDK Kosgoro Jawa Timur, sarasehan ini juga mematut pembicara Ketua Umum Kosgoro Hayono Isman dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair, Drs. Aribowo, MSi. Dipandu moderator Rochman Budianto, Direktur Eksekutif Jawa Pos Institut. “Acara tersebut dihadiri segenap kader Kosgoro dan Partai Demokrat di Jawa Timur ,” kata Lusiati, ketua panitia sarasehan.

Pramono Edy dengan lantang menegaskan, selain menjunjung tinggi Pancasila, kebenaran juga harus ditegakkan. Yang benar didukung, sementara yang salah harus dihukum. Karena itu merupakan muatan pesan dari sila keadilan sosial dalam Pancasila. “Yang kuat harus membantu yang lemah, bukan malah menindas. Sedang yang pandai harus berbagi kepandaian kepada yang kurang pandai, bukan malah menipu,” tandas Pramono.

Keanggotaan Pramono di Partai Demokrat disebut-sebut bakal memudahkan langkahnya untuk bisa mengikuti konvensi calon presiden partai tersebut bakal digelar mulai September mendatang. Banyak kalangan meyakini kalau Pramono Edhie memang sudah lama disiapkan Partai Demokrat untuk menggantikan kakak iparnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baik sebagai ketua umum partai maupun sebagai presiden mendatang.

Sementara itu dengan sikap seorang negarawan yang harus mengayomi semua pihak, Hayono Isman secara terpisah di luar sarasehan mengaku mengapresiasi akan hadirnya dan menguatnya dukungan terhadap Jokowi menjadi Capres RI. “Ini merupakan bukti bahwa partai belum mampu menelurkan calon pemimpin yang dibutuhkan bangsa dan negara,” tegas Hayono Isman.

Seperti halnya Obama, kata Hayono pula, dia bukan kader Partai Demokrat. Obama justru berangkat dari pegiat sosial, begitu juga SBY. Dia pendiri Partai Demokrat tapi dia lahir jadi pemimpin bukan karena hasil dari proses kaderisasi Partai Demokrat. “Sedamg Obama, dilamar partai politik dan dijagokan menjadi Presiden Amerika dan berhasil, itu fenomena lain,” kata Hayono Isman.

Persamaan mereka, jelas senioritas Kosgoro itu, sama-sama tidak dilahirkan oleh partai politik. Seperti juga Jokowi, dari pengusaha meubel yang memiliki keberpihakan pada orang kecil, mempunyai cakrawala besar tentang kebangsaan, lantas bergabung dan digadang-gadang partai. “Meskipun saya dari Partai Demokrat, harus berjiwa dan berpikir lebih besar, mengakui Jokowi sekarang berpeluang besar menjadi pemimpin mendatang,” katanya.

Mestinya, menurut Hayono Isman, partai-partai politik melakukan evaluasi, ketua-ketua partainya, kadernya, belum bisa menjadi pemimpin, dengan kata lain meraka masih menelurkan ketua partai dan kader-kader transaksional. Bukan kader-kader partai yang memiliki ideologi kepemimpinan.

“Saya setuju dengan statemen Pak Pramono Edhie Wibowo kebenaran harus ditegakkan. Yang salah harus dihukum. Ketegasan seperti ini akan melahirkan seorang pemimpin yang sejati. Partai-partai harus secepatnya mengevaluasi diri,” kata Hayono Isman.

Dalam penuturannya tentang proses peralihan pemimpin negara, Aribowo menyatakan, Indonesia selalu diwarnai dengan peristiwa yang berdarah-darah, sejak jaman kerajaan hingga republik. Dan ketika peralihan itu berlangsung, sebagian masyarakat mengidap sindrom memoria.

“Hal itu ditandai oleh adanya pernyataan bahwa jamannya Orde Baru lebih baik daripada masa reformasi. Sedangkan jaman Orde Lama lebih enak daripda Orde Baru, sementara orang-orang yang pernah hidup di jaman Belanda menganggap jaman Belanda lebih baik dibanding Orde Lama, dan jaman kerajaan lebih nyaman katimbang jaman Belanda, itulah ciri masyarakat yang terjangkiti sindrom memoria,” tutur Aribowo.

Menanggapi hal itu, Hayono Isman meningkahi, bahwa kita patut bersyukur bahwa dalam peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi relative berlangsung aman. “Kita tidak bisa membayangkan apabila Presiden Soeharto waktu itu tidak berjiwa besar dalam pengunduran dirinya kemudian mengerahkan segenap kekuatannya untuk melanggenggakan kekuasaan maka Indonesia mengalami nasib seperti Mesir, Syria, dan negara-negara Timur Tengah yang sekarang masih perang saudara,” terangnya di akhir sarasehan tersebut.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s