Agus Sunarko, Trainer Bonsai Nasional Kaliber Dunia

Melihat sosok Agus Sunarko, siapa pun akan tersentuh empatinya. Bagaimana tidak. Dengan usianya yang sudah kepala empat, ternyata pria yang satu ini masih terlihat (red. Maaf) mungil. Tinggi badannya sebanding dengan bocah usia 4 tahun, yaitu sekitar 100cm. Kendati demikian, keahliannya justru melebihi manusia normal. Pria kelahiran Pacarkeling – Surabaya ini, merupakan satu-satunya trainer bonsai Indonesia yang berkesempatan mendemonstrasikan kemampuannya di depan pecinta bonsai dunia.

”Waktu itu, saya seperti mimpi saja. Peristiwanya sangat di luar nalar. Saya diundang ke Belanda dengan transportasi dan akomodasi ditanggung panitia. Peristiwa itu kian membuka mata batin saya, bahwa kehendak Allah itu mampu membuat kemuskilan menjadi kepastian,” kata Agus dengan mata menerawang mengenang perjalanannya ke Negeri Kincir Angin pada enam tahun silam.

Bagaimana tidak. Dirinya yang kurang dalam fisik dan serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, ternyata secara tiba-tiba harus mengepak pakaian dan terbang ke Belanda. Tidak cuma itu, ia juga mendapat kesempatan untuk berbicara di tingkat dunia. Memamerkan keahliannya sebagai trainer bonsai asal Indonesia di depan para peserta pameran Holland Floriade, yang mayoritas merupakan para kolektor dan hobiis bonsai dan tanaman hias kaliber dunia.

Keberuntungan di pertengahan Mei 2002 yang membuat namanya berkibar di tingkat dunia. Dan, berkali-kali dipercaya untuk melatih trainer bonsai asal Slovenia, Spanyol, Belanda, Prancis, dan Timor Leste itu, menurut ia, bermula dari perkenalannya dengan Mr Egdo (pengusaha ekspor impor tanaman asal Belanda, red.). Mr Egdo adalah partner ekspor bonsai UD Artha milik Arpa’i sejak tahun 1991. Prinsip hidup Agus yang sumeleh dan selalu nrimo ing pandum, dengan keahlian dan kepiawaiannya membentuk bonsai menjadi seindah pohon aslinya, ternyata sangat mengagumkan Mr. Egdo.

Di luar dugaan, pada pertengahan Mei 2002 tiba-tiba sebuah surat undangan dari Mr. Egdo datang di showroom Arpa’i. Undangan itu meminta Agus dan Mulyadi –rekan kerja Agus—untuk hadir dalam pameran bonsai dan tanaman hias Holland Floriade. Kehadiran mereka yang sepenuhnya dibiayai panitia pameran tanaman hias kaliber dunia itu bukan semata sebagai undangan biasa. Namun Agus dan Mulyadi diundang sebagai peserta dari Indonesia, dengan tugas mendemonstrasikan kepiawaian dan keahlian mereka dalam menbentuk bonsai. Selain itu, Agus didapuk sebagai konsultan juri dalam menilai kontes bonsai yang diikuti para peserta dari seluruh penjuru dunia.

Memberi kesempatan

Lawatan muhibahnya ke Belanda yang mengubah jalan hidupnya itu, diakui anak keenam dari sebelas saudara hasil pernikahan Slamet dan Muntani (almarhumah) ini, tak lepas dari jasa seorang Arpa’i. Sosok Arpa’i dalam pandangannya tak sekadar majikan, tetapi sudah dianggap sebagai orang tua dan keluarga. Sebab Arpa’i merupakan satu-satunya pengusaha yang tak pernah menganggapnya kurang sempurna dalam fisik. Ini dibuktikan dengan kesudihannya memberi kesempatan Agus bekerja di showroom bonsainya, meski saat itu Agus melamar dengan kemampuan membentuk bonsai yang pas-pasan.

”Mr Egdo memilih saya dan Mulyadi pameran dan demo di Belanda, karena bonsai karya saya dan karya Mulyadi dinilai sempurna, natural dan seindah pohon aslinya. Sehingga layak udipamerkan di hadapan publik pecinta tanaman dunia,” ujar bapak tiga anak yang kini tinggal di Desa Klampok, Singosasi, Malang itu.

Perjalanan Agus menjadi sosok trainer bonsai kaliber dunia seperti yang disandangnya saat ini, dikatakan, tak datang begitu saja seperti sebuah durian runtuh. Juga, segampang membalik tangan. Predikat bergengsinya itu bermula pada kenekatannya meninggalkan Surabaya pada tahun 1988. Ia diajak kakaknya yang bernama Sunaryo untuk membantu menjaga toko bunga di kawasan Selecta, Batu – Malang.

Ironisnya pada tahun 1991, aset toko bunga Sunaryo itu dengan berat hati harus dilego untuk menutup kerugian akibat seringnya kecurian bunga dagangan. Dari hasil melego aset toko itu Agus diberi Sunaryo uang sebesar Rp400 ribu untuk modal usaha membuat sepatu. Namun uang modal itu dikembalikan Agus agar dimanfaatkan kakaknya sebagai modal usaha lain, untuk membiayai keluarganya.

Bermodal restu

Sedangkan yang diminta Agus dari kakaknya hanyalah izin dan doa restu untuk bekerja di tempat lain. Bermodal restu kakaknya dan kepiawaian merawat bonsai yang pas-pasan, Agus pun melamar kerja di UD Artha di Batu milik Arpa’i. Tanpa proses penerimaan yang rumit. Sejak saat itu Agus pun menjadi salah satu perawat bonsai milik Arpa’i. Hanya dalam waktu setahun, bakat suami Apriliana Intani di dunia bonsai terlihat mencorong.

Profesinya sebagai trainer bonsai, ternyata menjadi jalan ayah dari Puspitasari (20), Dwi Kurniawati (18), dan Galuh Agata Puspa Wardana Putra (3) ini daam menjemput rezeki Allah. Selain dapat bermanfaat sebagai penopang hidupnya, ternyata rezeki dari profesi trainer bonsai itu membuat Agus mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA. Bahkan ia terobsesi mapu membiayai kuliah anak-anak kesayangannya dari keahliannya membentuk bonsai itu.

Keunikan Agus sebagai trainer bonsai, terproyeksi pada prinsip kerjanya yang tak menerapkan konsep komersiel. Ia tak mematok tarif untuk jasanya merawat bonsai. Ia selalu menerima berapapun rupiah pemberian pemilik bonsai yang dirawatnya. Sebab berapa pun rupiah yang diterimanya sangat disyukuri sebagai rezeki yang kucuran Allah. ”Dari gaji bekerja di pak Arpa’i dan pemberian para pemilik bonsai yang saya rawat di rumah, Alhamdulillah hidupnya saya kini sudah berkecukupan. Paling tidak, saya mampu memenuhi kewajiban saya sebagai kepala rumah tangga,” ujarnya sembari mengelus kepala anak bungsunya, Galuh.- Majalah Kembang Edisi 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s