Soelityorini Paramita, Juri Si Bonggol yang ’Gila’ Fotografi

Profesi juri tanaman hias umumnya disandang oleh kaum pria. Salah satunya lantaran ketelitian dan ketelatenan divonis para hobiis dan kolektor tanamann hias, cuma dimiliki para adam hobiis tanaman hias. Namun, penilaian itu sebentar lagi akan mengalami pergeseran. Bagaimana tidak. Dalam peta tanaman hias adenium, ternyata telah lahir seorang juri wanita yang ketelitian dan ketelatenan dalam melakukan penilaian terbukti dan telah teruji melebihi para juri pria. Siapakah dia?

Tak lain dan tak bukan adalah Soelityorini Paramita. Seorang ibu rumah tangga sebagaimana umumnya kaum wanita di Indonesia. Penampilannya yang sangat modis, membuat kehadirannya terasa mencorong diantara deretan para juri pria, meski ia bertubuh mungil dengan kulit kuning temugiring.

Status juri adenium yang disandangnya, diakui, belum cukup lama. Status prestisius itu berawal saat ia mengikuti diklat juri adenium yang diselenggarakan PPADI (Perhimpunan Penggemar Adenium Indonesia) di Gedung Dolog Jl. Akhmad Yani Surabaya, awal Mei 2007. Di luar dugaan, ternyata dalam diklat tersebut ia terpilih sebagai 10 besar dari 20 orang peserta diklat. Waktu itu yang menjadi pembicara yaitu almarhum Adeng, yang populer sebagi trainer handal adenium.

”Motifasi mengikuti diklat juri adenium, karena saya ingin memperdalam ilmu tentang adenium yang mempunyai kecantikan pada bunganya,” kata alumni Unibraw Malang Fakultas Teknik Kimia Poltek.

Selain itu suaminya Muh. Anugerah Wisnu Darmawan (37) sangat mendukung keputusan Mita (panggilan akrab Soelityorini Paramita, red). Memang berat tugas seorang juri apalagi selama ini seorang juri harus rela mengemban tugas berhari-hari dalam menilai, bahkan sampai ke luar kota harus dijalaninya. “Suamilah merupakan motivator terbesar yang mendorong saya untuk menjadi seorang juri adenium,” kata wanita berusia kepala 3 ini.

Sampai saat ini suaminya selalu memberikan dukungan penuh. Ditengah kesibukannya sebagai seorang pegawai swasta pada perusahaan kontraktor, suaminya selalu menyempatkan diri mengantar Mita walau luar kota. ”Di saat liburan, mas Darmawan biasanya mengantar saya menjuri,” katanya.

Pengalaman pertamanya sebagai juri terjadi akhir Mei 2007 silam di Gresik. Sebuah kontes untuk pencanangan kota Gresik sebagi kota adenium. ”Saat pertama menjadi juri, saya sangat grogi dan adem panas. Takut salah memberikan nilai,” ujarnya disela-sela even Puspa Gumelar 1 di Wonogiri.

Mengapa demikian. Menurut ia, karena juri tak hanya dituntut untuk mampu memberikan sebuah penilaian obyektif. Namun, juga harus mampu memberikan alasan obyektif yang memenui nilai estetika atas keindahan adenium yang dinilainya. Menilai adenium sendiri punya tingkat penilaian cukup sulit. Salah satunya, karena banyaknya kelas yang dilombakan.

Demikian sulitnya tugas sebagai juri adenium itu. Sehingga seorang trainner tanaman hias, diakui, belum tentu mampu menuangkan keindahan sebuah tanaman dalam bentuk matematis. Penilaian tertinggi nilainya 9. Karena itu, Mita harus ekstra hati-hati dalam menentukan nilai setiap peserta kontes adenium. Salah satu kiat yang dilakukan saat menjadi juri kontes adenium, adalah belajar dari pengalaman juri-juri adenium yang lebih berpengalaman.

Seorang juri juga harus bisa memegang teguh kode etik juri. Setiap ada kontes adenium, bila ia diminta menjuri. Mita senantiasa memberikan pelayanan baik tenaga maupun fikiran demi kesuksesan kontes tersebut. Bahkan sebelum melakukan penjurian ia selalu tidak memberitahukan, kapan dan dimana dia akan menjuri. “Setiap akan menjuri dimanapun, saya tidak akan memberitahu siapa pun,” tegasnya.

Keindahan adenium yang terlihat indah baik dari seni bonggol maupun pesona warna bunganya, ternyata kian menambah kecintaannya pada dunia barunya sebagai juri. Itu terlihat sangat senangnya ia dalam menjalan, sehingga terpancar di wajahnya tidak ada rasa beban berat dalam menjalani.

Selain hobi tanaman hias Mita sangat menyukai seni fotografi. Setiap kali menjuri diberbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ia menyempatkan diri, dengan mengabadikan momen-momen sepanjang even pameran dan kontes. ”Saya selalu mengabadikan momen-momen menarik sebuah lomba, arena saya hobi fotografi. Selain itu, saya ingin memiliki dokumentasi yang lengkap tentang sebuah pameran dan kontes adenium. Bukan tidak mungkn suatu saat, saya akan menggelar sebuah pameran fotografi adenium,” katanya.

Pengalaman yang tak pernah dilupakan sampai saat ini, adalah kekeliruan para peserta kontes dalam memandang dirinya saat menenteng kameranya. Ia disangkah seorang wartawan. Salah satunya lantaran anggapan para hobiis dan kolektor, bahwa juri kontes tanamann hias cuma pria.- Majalah Kembang Edisi 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s