Flora Purba Simbol Prestise yang Diburu Kolektor

oleh:prayogi waluyo

Ratusan juta tahun silam di saat bumi dalam masa prehistorik. Masa-masa manusia dan hewan belum ada. Satu-satunya mahluk hidup yang ada di bumi hanyalah tanaman dengan mayoritas karakter tubuh berkulit kasar dan berdaun kaku. Karakteristik fisik merupakan proyeksi dari pengaruh genetik tanaman oleh kondisi alam, yang beriklim panas dan lembab. Keberadaan tanaman ini berkembang pada awal kehidupan di bumi pada tiga zaman dalam era Mesozoic dari 245-208 juta tahun dahulu, yaitu Zaman Triassic, Zaman Jurassic, dan Zaman Cretaceous. Keabadian ordo cycadales yang menjadi makanan Plateosaurus, Lesothosaurus, Heterodontosaurus, Dilophosaurus, Stegosaurus, Brachiosaurus, Dryosaurus, Diplodocus, Camarasaurus, Allosaurus, Iguanodon, Protoceratops, dan Triceratop ini, ternyata berembangbiak hingga saat ini.

Karena itu, tanaman ordo cycadales ini juga populer sebagai tnaman purba Dengan statusnya sebagai tanaman berusia purba, maka untuk mendapatkannya memerlukan sebuah perjuangan berat dan dana lumayan besar. Tak pelak lagi, dalam peta komunitas tanaman hias di dunia dan Indonesia khusunya, maka tanaman ini menempati sebuah strata tertinggi.

Citra eksklusifitas yang disandang tanaman-tanaman berkulit kasar ini pun, merangsang para kolektor untuk menobatkannya sebagai sebuah simbol prestisius. Bahkan dalam komunitas ini berkembang sebuah isme, yang menempatkan tanaman jenis sikas, ence, dioon, zamia, dan palem yang dikoleksi beberapa mania di Indonesia sebagai simbol prestise untuk mencongkrak citra dalam masyarakat dan dunia bisnis. Salah satu buktinya, banyaknya konglomerat, pengusaha, dan perusahaan di dunia dan Indonesia yang menghiasi tempat tinggal atau pun kantor mereka dengan tanaman purba yang harganya bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah ini.Mengapa ini terjadi. Sorotan utama kami saat ini, mencoba untuk menyibak dan mengorek peristiwa yang terjadi dibalik keberadaan koleksi tanaman purba yang ada di Surabaya, Jawa Timur, dan Indonesia.Entah karena eksotisme tanamannya atau nilai prestise yang dikandungnya, maka tanaman Cycads (sikas, red.), ence, dan palem yang masuk dalam ordo Cycadales, hingga saat ini bak sebuah harta karun yang diburu para kolektor. Kendati jumlahnya termasuk langka dan harga belinya sangat tinggi. Mengapa tanaman yang populer sebagai tanaman purba ini menjadi barang buruan?

Tanaman Sikas, Ence, dan Palem yang termasuk dalam Ordo Cycadales, hingga saat ini tetap menjadi ’barang’ buruan. Mungkin, banyak orang yang tahu bentuk dan macam tanaman sikas, ence dan palem. Namun, yang tahu, paham, sekaligus menggandrungi ketiganya di Indonesia tidaklah banyak. Kondisi itu sebanding dengan keberadaan tanaman sikas yang langka.

Bila dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal klasifikasi sosial, pada tanaman pun hal itu terjadi. Sikas, selama ini dianggap sebagai kelas tertinggi dari jutaan jenis flora tanaman hias. Sikas dikategorikan sebagai tanaman purba. Bahkan ada sumber yang menyebutkan bahwa tanaman sikas sudah ada sejak zaman karbon, dan menjadi jenis tanaman yang paling disukai dinosaurus sebagai santapan alamnya.

Keberadaan sikas di Indonesia, menurut Rustamaji (50) – pemilik Barokah Nursery, Batu–Malang Jawa Timur, sudah sangat terbatas dan langka. Kalau pun ada, lebih banyak berada di para kolektor dari pada yang diperjual belikan. Sebagai bukti, bila ada seratus nursery, mungkin hanya dua nursery saja yang menjual aneka ordo cycadales. Itu terjadi lantaran import tanaman sikas saat ini sangatlah sulit.

Terbatasnya ordo cycadales di Indonesia, penyebabnya sangat banyak. Namun, penyebab utamanya, karena untuk import sudah sangat sulit. Apalagi tanaman sikas atau ence yang diimport dari Afrika. Pihak karantina di negara itu melarang keras ekspor tanaman tersebut ke negara lain. Tanaman yang ada di penjual, biasanya stock lama atau hasil perkembangbiakan. Kalau pun ada barang baru, sangat mungkin didapatkan dari jalur pasar gelap,” ujar Rustam di nursery-nya.

Faktor lainnya, tambah Rustam, adalah keterbatasan kemampuan kolektor dalam membudidayakan sikas, ence, atau pun palem koleksinya. Sehingga, perkembang biakan tanaman langka sulit, tapi peluang untuk mati justru lebih besar kemungkinannya. Sebab, meski tergolong mudah perawatannya, tapi bila tidak paham pola hidup ordo cycadales, tak jarang kolektor berduka lantaran kehilangan tanaman kebanggaanya.Fenomena keterbatasan jumlah jenis sikas, seperti yang diungkapkan Rustam, merupakan sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Kendati demikian, motivasi berburu para kolektor justru semakin membara. Faktor keterbatasan dan kesulitan itu dijadikan para kolektor sebagai tantangan.

Mengapa demikian. Karena mendapatkan sebuah sikas, ence, palem, atau jenis lainnya akan membuat kolektor kian bangga. Sehingga tanaman berharga puluhan juta hingga ratusan juta rupah itu nilainya menjadi melambung. Kisah Sikas sautsiana milik Herman G. Permadi yang saat ini menghiasi rumahnya di Villa Bukit Mas, Surabaya Barat misalnya. Sikas berdaun biru dengan tinggi 175cm itu, menurut ia, pernah ditawar seorang kolektor dari Jakarta seharga Rp1,8 miliar. Namun, tawaran itu langsung ditolak tanpa alasan, meski nilainya penawaran dinaikkan hingga Rp2,5 miliar.

Saya tolak tawaran yang sangat menggiurkan itu, karena cara mendapatkannya yang sulit. Selain itu, sautsiana itu sudah ikut saya sebelum anak pertamaku yang kini usia 25 tahun lahir. Ia juga sudah bernasib pahit, ikut pindahan rumah sebanyak empat kali,” kata pengusaha kayu yang menolak sautsiana-nya difoto.

Sedangkan kisah tanaman purba lain yang menjadi buruan kolektor dituturkan H. Mas Tedjakusuma Abdurachman. Pengusaha property ini mengatakan, tanaman Encephalartos heenanii yang batangnya setinggi miliknya 45cm itu pernah ditawar diatas Rp 5 miliar, sementara biaya pemindahan ditanggung kolektor peminat. Namun tawaran atas tanamannya yang telah masuk kategori E (nyaris punah) itu dengan halus ditolaknya.

Kalau saya disuruh memilh antara rupiah dan ence, saya akan memilih ence. Pertimbangannya gampang saja, rupiah bisa dicari dengan gampang berapa pun jumlahnya. Sedangkan ntuk mendapatkan ence seperti punyaku, seorang konglomerat pun samapai rambutnya ubanan belum tentu berhasil mendapatkan,” kata muallaf yang meminta ence-nya tidak difoto agar tidak repot menolak serbuan tawaran kolektor.

Sulitnya kolektor lain untuk membeli tanaman kesayangan Herman dan Tedjakusuma itu, meski dengan harga yang berlipat kali dari nilai belinya. Menurut Darmawan Wonokusumo – kolektor Enchephalartos cupidus dan dolomiticus, karena tertahan oleh citra yang diberikan tanaman purba itu terhadap pemiliknya. Pemilik tanaman purba, prestise-nya di masyarakat dan dunia bisnis akan lebih terdongkrak.

Nilai prestise yang diberikan masyarakat dan dunia bisnis itu, diakui pengusaha resto di Surabaya-Jakarta-Bandung dan Bali ini pernah dirasakan. Kendati hanya memiliki ence sebanyak sembilan buah yang tertanam di dua villanya di dekat Jatim Park I, Batu-Malang, tapi namanya saat ini sedikit terangkat di komunitas kolektor tanaman purba Indonesia. Ini terbukti dari ponselnya yang selalu berdering, baik rayuan untuk melego ence kesayangannya. Atau tawaran kerjasama bisnis.

Saya mendapat telpon mereka yah … senang-senang aja. Banyak teman dan kenalan khan banyak resjeki seperti yang diajarkan Rasulullah, tapi saya akan hindari dengan halus jika penelpon sudah merayu untuk melego ence kesayanganku,” kata muallaf yang mengaku bernasib baik. Mendapatkan ence secara tak sengaja saat membeli villa dengan harga Rp 25 miliar dan Rp 34,7 miliar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s