Persaingan Negatif Banting Harga dalam Pameran

oleh:prayogi waluyo

Peta persaingan negatif mulai menggejala dalam pameran tanaman hias di Jawa Timur. Antar pedagang saling adu strategi untuk berebut keuntungan. Kondisi tidak sehat itu kian runyam, dengan mulai terlibatnya beberapa petani tanaman hias dalam sektor perdangan yang sangat menjanjikan keuntungan berlipat itu. Tak pelak lagi, nasib pedagang pun ada di ujung tanduk. Tinggal menunggu waktu kapan gulung tikar. Mengapa ini terjadi?

Sejak awal 2008, pasar tanaman hias di Jawa Timur terasa kurang bergairah. Angka penjualan yang dibukukan para pedagang, khususnya yang dijaring dari pameran menunjukan grafik penurunan sangat menghawatirkan. Tak pelak lagi, para pedagang pun mulai pasang ancang-ancang. Berbagai strategi dipilih pedagang sebagai ajimat pendongkrak penghasilan mereka dari arena pameran.

Buat pedagang yang menganut sistem perdagangan sehat, mereka akan memilih strategi dengan mempercantik stan pamerannya sebaga pemikat penggemar. Target mereka sederhana. Membuat pengunjung pameran masuk stannya. Dengan masuknya pengunjung membuktikan tanaman hias yang didisplay pedagang berhasil menimbulkan daya magis.

Target pertama semua pedagang saat mengikuti pameran adalah membuat stannya dikunjungi penggemar tanaman hias. Langkah selanjutnya tinggal kepiawaian pedagang bernegosiasi dan mengarahkan pengunjung, sehingga peluang terjualnya sebuah tanaman yang sudah di tangan tak terbang sia-sia,” kata Tia, pemilik Rindang Nursery di sela-sela Pameran Tanamanan Hias Pets & Plants Exhibition di halaman parkir Timur Kampus Untag Surabaya, awal Juni lalu.

Ironisnya solusi bijak yang dilontarkan Tia itu tidak dianut oleh semua peserta pameran. Suasana itulah yang tersirat di beberapa pameran tanaman hias, sejak empat bulan terakhir. Sebuah atmosfir negatif terselenggaranya strategi spekulatif banting harga, yang berpeluang membuat bangkrut peserta pameran bermodal pas-pasan.

Pengalaman ”nakal” itu setidaknya pernah dilakukan oleh Pai –pemilik Tunggal Nurseri Batu-Malang. Petani tanaman hias ini melakukan banting harga atas bibitan Gelombang Cinta, karena ingin memberi pelajaran etika dagang pada peserta yang stan pamerannya di samping stan Tunggal Nursery.

Alkisah peserta rival Pai itu diawal pembukaan pameran mematok bibitan Gelombang Cinta dengan harga Rp 40.000. Saat harga tersebut diikuti Pai, tapi dengan kualitas bibitan yang lebih tinggi. Tiba-tiba tetanggahnya itu mengubah harga yang ditawarkan menjadi Rp 25.000. Perubahan harga itu tentu saja berpengaruh pada bibitan yang didisplay Pai. Selama dua hari bibitan yang ditawarkan tak laku, bahkan ia harus merogoh kocek pribadi untuk uang makan karyawannya.

Gemas akan kelicikan tetangga stannya itu, maka Pai berspekulasi mendatangkan bibitan dari area pembibitan miliknya di Batu-Malang. Bibitan dengan kualitas dibawah tetangganya itu diobral dengan harga Rp 15.000. Namun, banting harga itu sebatas pada bibitan yang baru didatangkan, sementara yang sudah didisplay di stan pameran tak mengalami perubahan harga. Kendat demikian, strategi yang dilakukan Pai cukup berhasil. Ia panen rupiah dari obral bibitan Gelombang Cinta, sementara tetangga stan pamernya harus gigit jari dari strategi banting harga yang dimulai.

Saya berdoa semoga kenakalan banting harga itu merupakan yang pertama dan yang terakhir. Saya tidak ingin melakukannya lagi asal para pedagang tidak banting harga agar tanamannya laku dan merugikan peserta pameran lainnya,” kata Pai disela-sela pameran tanaman hias di alon-alon Sidoarjo.

Sangat Beretika

Sedangkan Putu Agung Subekti – pemilik Jelita Garden Kediri- yang dinilai beberapa pedagang tanaman hias sebagai individu yang sering melakukan strategi banting harga di pameran. Menurut ia, tuduhan yang dilontarkan para pedagang tidak benar dan tidak beralasan. Selama ini strategi dagang yang dilakukan di pameran tetap beretika. Ia menjual tanaman kualitas rendah dengan harga murah, kualitas sedang dengan harga menengah, dan kualitas istimewa dengan harga tinggi.

Sebuah bibitan Aglaonema pride of sumatera kualitas rendah (3-4 daun) yang harga kulakannya Rp 30.000 per pot, misalnya. Putu biasanya menawarkan dengan harga Rp 50.000, sementara pedagang lain menjual antara Rp 70.000 hingga Rp 80.000. Selisih harga jual itulah, diyakini, sebagai faktor pemicuh tuduhan pedagang terhadap dirinya sebagai pelaku banting harga. Padahal setahu dia strategi dagang yang dilakukan sangat ideal dan umum. Sebab dengan margin keuntungan sebesar Rp 20.000, ia berharap tumpukan agalonema di rumahnya cepat habis, sehingga ia dapat segera kulakan lagi.

Apa saya salah jika menjual aglaonema dengan margin keuntungan tipis. Seharusnya pihak pedagang yang tahu diri. Dengan kondisi pasar tanaman hias yang kurang menggembirakan ini, idealnya mereka cari keuntungan tipis yang penting lancar. Sehingga roda bisnis tanaman hias berjalan lancar dan pihak petani sama-sama diuntungkan atas pembelian tanaman hias oleh pedagang,” katanya saat dihubungi via ponselnya.

Ia juga tidak memungkiri sesekali menjual aglaonema dengan harga kulakan. Namun, itu dilakukan lantaran pembelian berlangsung dalam sistem partai, karena pembeli mengaku aglaonema yang dibeli akan dijual lagi. ”Kalau ada yang membeli dalam jumlah partai, apa saya harus melayaninya dengan harga pasar per pot. Jika itu saya lakukan berarti saya seorang pedagang yang tidak cerdas. Resikonya saya pasti akan ditinggalkan pembeli,” ujanya.

Penyebab lain yang mengacaukan detak perdagangan tanaman hias, dalam penilaian Bambang Sudoko –pemilk Dian Florist, kalender pameran tanaman hias yang terlalu ketat. Pada bulan Mei dan Juni, misalnya. Dalam waktu hampir bersamaan di Surabaya, Gresik, sidoarjo, Lamongan, Lumajang, dan Jombang terselenggara suatu pameran. Kendati kualitas pameran tidak sama, tapi keadaan ini membuat pedagang harus cerdik memilih pameran agar partisipasinya tidak sia-sia.

Ironisnya ada pedagang yang berspekulasi mengikuti semua kalender pameran yang terselenggara, dengan obsesi mendapat keuntungan dari pameran yang diikuti. Bagi yang bernasib baik, mungkin keuntungan berlipat berhasil didulang dari pameran yang diikuti. Sebaliknya bagi yang kurang beruntung, tentunya akan mengambil keputusan konyol untuk menutup biaya sewa stan, transportasi dan akomodasi. Dan, startegi banting harga menjadi pilihan terburuk, tapi membuat pasar tanam hias menjadi runyam.

Sulit memang, menemukan solusi terhadap masalah strategi perdagangan tanaman hias yang akhir-akhir ini cenderung negatif. Sebab strategi perdagangan itu juga berurusan dengan kebutuhan perut dan kelanjutan usaha. Alternatif satu-satunya, menurut Putu, paguyuban pedagang tanaman hias harus terlibat aktif melakukan koreksi harga. Sehingga terjadi kesepakatan harga jenis tanaman hias yang menguntungkan pedagang. Juga, membuat roda penjualan petani tanaman hias berputar lancar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s