Belajar Sejarah, untuk Apa ?

oleh Henri Nurcahyo – Swara Majapahit

BELAJAR sejarah, nampaknya identik dengan pelajaran di sekolah. Sejarah dihapal dari nama-nama raja, kerajaan, angka-angka tahun, untuk kemudian dituliskan kembali ketika ada ulangan. Posisi pelajaran sejarah di sekolah itupun tidak dianggap penting, sehingga tidak menjadi mata pelajaran pokok dalam ujian nasional. Dapat dibayangkan sendiri, bagaimana apresiasi (baca: penghargaan) anak sekolah terhadap (pelajaran) sejarah.
Padahal, siapakah yang mampu lari dari sejarah? Setiap orang memiliki sejarah dirinya sendiri, sejarah keluarganya, sejarah lingkungannya, sejarah bangsanya, dan juga sejarah umat manusia. Persoalannya adalah, apakah semua “sejarah” itu memang layak disebut sejarah? Siapakah yang berhak mengklaim bahwa suatu kisah atau peristiwa memang pantas disebut sejarah?
Yang jelas, sebagaimana dipahami selama ini, sejarah memang tak lepas dari kepentingan politik. Sehingga history sering diplesetkan menjadi his story. Sejarah menjadi milik para pemenang. Siapa yang berkuasa seolah-olah menjadi pihak yang paling berhak untuk menuliskan sejarah. Itu sebabnya seorang tokoh pahlawan bagi suatu bangsa, dapat dianggap sebagai penjahat bagi bangsa lain. Demikian pula sebaliknya. Juga peristiwa heroik yang membanggakan bagi suatu bangsa dapat dikatagorikan sebagai pemberontakan anarkis oleh bangsa lain.
Sejarah adalah catatan masa silam, menjadi kaca benggala bagi masa kini, dan sebagai acuan bagi masa depan. Barangsiapa yang mengabaikan sejarah, jangan kaget kalau bakal terjeblos di lobang yang sama. Lebih sial dari nasib keledai, yang konon tak pernah terantuk di batu yang sama. Lebih bodoh ketimbang tikus, yang tak pernah memangsa jebakan atau umpan racun yang pernah menewaskan temannya. Itu sebabnya Bung Karno berkata, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”
Sejarah memang masa lalu, tidak akan dapat direkonstruksi secara sempurna. Sejarah masih banyak berisi dengan dugaan, prakiraan dan sekian banyak penafsiran. Adalah menjadi hak setiap orang untuk memahami, menafsirkan dan memaknai kembali sejarah dengan caranya sendiri. Maka diperlukan sikap kritis, dan terus menerus belajar untuk dapat memahami sejarah sebagaimana mustinya.
Bersikap tak peduli dengan sejarah, bakal terus dibodohi oleh mereka yang berkuasa “menuliskan sejarah”. Tinggal memilih saja, apakah kita akan menjadi pelaku sejarah, penonton sejarah, ataukah menjadi korban sejarah. Dari sinilah kita akan berangkat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s