Sertifikasi Guru, Kebaikan Setengah Hati

Oleh benendik – Swara Majapahit

AKHIRNYA pemerintah berniat juga memikirkan nasib guru di negeri ini dengan memberikan tunjangan profesi..Semakin tinggi gaji pokok semakin tinggi pula tunjangan profesi yang diberikan. Ini tak pelak menjadi angin segar bagi para “ Oemar Bakhri” di negeri ini. Beban rutin bulanan yang terasa berat kelak menjadi ringan.
Program pemerintah ini akan turut serta meningkatkan prestise profesi sebagai seorang guru.Dengan adanya tunjangan profesi ini berarti guru semakin dilihat sebagai sebuah profesi, dengan begitu bekerja sebagai guru sebanding dengan bekerja dalam profesi pekerjaan lainya. Perkerjaan sebagai guru tidak akan lagi dianggap sebagai pekerjaan kelas dua

Sayangnya, hal tersebut tidak diberikan secara cuma cuma, karena ini berkaitan dengan peningkatan profesionalisme, dan pada akhirnya juga akan berkaitan dengan kemampuan atau mutu seorang guru. Maka dari itu pemerintah memberikan ketentuan bahwa guru yang mendapat tunjangan profesi adalah guru yang telah lolos sertifikasi dan minimal telah berpendidikan Sarjana (S1).

Dengan adanya ketentuan tersebut, maka kurang lebih sebanyak 1,8 juta orang guru yang belum terkualifikasi S1 akan terkena dampak dari ketentuan ini. Untuk mendapatkan tunjangan profesi ini, mereka akan berlomba lomba untuk melakukan peningkatan jenjang akademik menjadi setara S1. Dapat dibayangkan berapa banyak guru yang akan kembali ke kampus dan berapa banyak ruang kelas yang mereka tinggalkan saat – saat jam pelajaran.

Pemerintah menyakini program sertifikasi ini, akan serta merta menaikan mutu guru dan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan adanya program sertifikasi ini, pemerintah berharap guru menjadi lebih profesional dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas yang pada ujungnya akan meningkatkan kualitas lulusan anak didik. Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah peningkatan kualifikasi pendidikan seorang guru, otomatis dapat meningkatkan kualitasnya? Belum Tentu.

Mendidik bukanlah suatu pekerjaan teoritis yang mudah untuk dipetakan. Banyak aspek aspek yang harus diperhatikan menjadikan kegiatan mendidik sesuai dengan harapan. Memang peningkatan kualifikasi seorang guru termasuk salah satu aspeknya, tapi itu hanya salah satu. Menjadi tenaga pendidik profesional tidaklah cukup dengan hanya mengenyam pendidikan 4-5 tahun, dibutuhkan waktu lebih dari itu.

Pada dasarnya program sertifikasi guru sebenarnya merupakan sebuah langkah bagus, jika disesuaikan dengan kondisi lapangan. Bila tidak, maka program ini tidak hanya akan menghasilkan keprofesionalan teoritis semata tapi juga berbagai masalah nantinya. Sebanyak 1.8 juta orang guru akan ikut serta dalam program sertifikasi ini, dari jumlah tersebut 1.4 juta merupakan guru Sekolah Dasar dan Madrasah yang rata rata berpendidikan Diploma 2 (D2) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). .

Bagi guru lulusan D2 dibutuhkan waktu 2-3 tahun untuk mendapat kualifikasi S1 sebagai syarat program sertifikasi. Sedangkan guru lulusan SPG membutuhkan waktu 4-5 tahun. Perjalanan ini bukan rentang waktu yang sebentar dalam dunia pendidikan.

Jika 1.4 juta guru SD yang ingin memenuhi syarat sertifikasi kembali ke kampus, dan bila rata rata mereka memegang 1 kelas, maka hasilnya 1.4 juta kelas belajar akan terganggu selama mereka mengikuti pendidikan akademik. Meski mereka hanya kuliah Sabtu dan Minggu, tetap akan berdampak terhadap anak didiknya karena para guru tersebut lebih tercurah kepada kegiatan perkuliahan.

Itu hanya masalah mengenai kegiatan belajar mengajar, belum lagi masalah keuangan. Mau tidak mau guru harus menggunakan gaji bulanan untuk membiayai program pemerintah.

Selain itu program ini juga akan menghasilkan sebuah kesenjangan sosial sementara. Guru guru yang telah terkualifikasi S1 tentu akan lebih dulu mengikuti program sertifikasi dan akan lebih dahulu pula mendapatkan tunjangan profesi.Lantas bagaimana dengan guru lain yang membutuhkan waktu 2-5 tahun untuk mengikuti program sertifikasi.

Mereka akan habis habisan untuk megejar kualifikasi pendidikan S1 demi mendapatkan selembar sertifikasi pemerintah. Sedangakan program ini berlangsung 10 tahun. Jika selama jangka waktu tersebut guru belum mendapatkan sertifikasi maka mereka dianggap tidak layak menjadi tenaga pendidik dan akan dipensiunkan sebagai tenaga pengajar milik pemerintah

Tak ayal seperti yang telah dijelaskan, ruang ruang belajar terganggu, lebih lagi bagi kelas penghujung yang akan mengikuti Ujian Nasional di akhir tahun pelajaran. Pada akhirnya kualitas pendidikan kitalah yang menjadi taruhanya, program yang pada awalnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan malah menjadi bumerang.

Kenyataan kembali memperlihatkan bahwa pemerintah belum juga berpijak pada kondisi lapangan para guru selama di sekolah. Alangkah baiknya program sertifikasi diperuntukan bagi calon guru yang akan datang atau bagi guru yang tahun pengabdianya dibawah kurun waktu 10 tahun.

Sehingga tidak menimbulkan begitu banyak masalah bagi perkembangan pendidikan kita. Dan bagi guru yang telah mengabdi di atas 10 tahun tetap diberikan sertifikasi sebagai sebuah penghargaan pemerintah bagi jasa mereka dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sehingga nantinya tidak ada lagi pameo pahlawan tanpa tanda jasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s