Memberi Penghargaan, Perlu Dibudayakan

oleh Henri Nurcahyo – Swara Majapahit
Jangan coba-coba telat bayar rekening, karena sanksi langsung berlaku. Telat bayar pajak, bayar listrik, telepon, dan semua bentuk pembayaran atas pelayanan publik, semua harus ditaati tanpa reserve. Tetapi, apa yang terjadi kalau aliran listrik mati? Air PDAM tak mengalir? Telepon tidak ada sambungan? Apakah pemerintah memang hanya bisa menghukum? Sementara rakyat harus dikalahkan?


Memberi “hukuman” nampaknya sudah membudaya di kehidupan sehari-hari. Kalau ada anak kecil bermain di jalan, langsung dilarang, dimarahi, dipukul, kalau perlu dihukum sekap dalam rumah. Tapi apa yang terjadi ketika anak kecil rajin sekolah, suka membantu orangtua, berkata sopan santun dan berperilaku baik? Apakah orangtua juga memberikan “penghargaan” pada anak seperti itu?

Hal yang sama juga berlaku bagi pengguna lalulintas di jalan raya. Polisi langsung menghukum tilang bagi pelanggar rambu, menerobos lampu merah, tak bawa atau tak punya SIM, dan berbagai kesalahan yang bisa saja dicari-cari.

Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak punya kesalahan sedikitpun dalam catatan kepolisian? Apakah mereka akan mendapat keringanan saat mengurus pajak kendaraan misalnya? Atau kemudahan saat memperpanjang SIM? Atau, syukur-syukur mendapat bonus berupa potongan biaya administrasi.

Hukuman atau punishment itu perlu, tetapi yang juga tak kalah pentingnya adalah memberikan penghargaan (reward). Pemerintah jangan hanya sibuk menerapkan punishment namun sama sekali lupa memberikan reward. Bahwa reward and punishment selayaknya diberlakukan dengan seimbang.

Contoh yang bagus diterapkan pemerintah saat melakukan sosialisasi NPWP. Bagi mereka yang dapat menunjukkan kartu NPWP dibebaskan beaya fiskal ketika hendak bepergian ke luar negeri. Bagi yang belum atau tidak punya, dikenakan beaya fiskal sampai Rp 2,5 juta.

Hal ini memang boleh-boleh saja. Pertanyaannya, berapa banyak penduduk negeri ini yang berkepentingan pergi ke luar negeri? Mengapa reward itu tidak dirupakan saja dalam bentuk yang lain, yang lebih bersangkutan dengan kepentingan khalayak, dan bukan kalangan minoritas belaka?

Selama ini pelayanan umum yang dilakukan pemerintah memang cenderung menjengkelkan. Mulai dari pelayanan air minum (PDAM), listrik, telepon, pajak tanah, pajak kendaraan dan sebagainya. Mentang-mentang listrik dimonopoli oleh pemerintah, maka pelayanannya cenderung melemahkan posisi konsumen. Telat bayar langsung didenda, diputus alirannya, namun mereka yang rajin membayar selama bertahun-tahun sama sekali tidak pernah mendapatkan penghargaan sama sekali.

Monopoli itulah yang menjadikan pelayanan publik cenderung bersikap tidak professional. Coba saja misalnya ada perusahaan Kereta Api swasta, PDAM swasta, PLN swasta, maka pasti ada persaingan memberikan pelayanan yang terbaik pada konsumen. Hal ini sudah terbukti pada telepon seluler, yang jumlahnya sekian banyak, saling bersaing, ujung-ujungnya berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik pada konsumen. Pemerintah hanya tinggal mengawasi regulasinya saja. Kalau ada yang ngawur tinggal nyemprit dan menjewer saja.

Kelirumologi

Persoalan memang menjadi rumit ketika pihak pemerintah menjadi pelayan kepentingan publik. Dari tinjauan epistimologinya saja sudah keliru., Yang namanya “pemerintah” itu artinya pihak yang “memerintah”. Jadi kalau pemerintah diminta “melayani” itu salah kaprah. Makanya kalau ada pejabat yang mengklaim dirinya sebagai “pelayan rakyat”, itu omong kosong. Mana mungkin pemerintah dan pelayan dapat menyatu dalam satu tubuh sekaligus?

Salah kaprah seperti ini memang nampaknya kurang diperhatikan. Sebut saja contoh lain, Badan Narkotika Nasional (BNN), padahal tugasnya berperang melawan narkotika. Mengapa namanya tidak Badan Anti Narkotika Nasional (BANN)? Ini termasuk wilayah Kelirumologi, alias ilmu tentang keliru, yang dipopulerkan oleh Jaya Suprana.

Kelirumologi yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menyebut Obat Nyamuk. Jadi, kalau nyamuk tidak mati tapi malah bertambah gemuk, ya memang wajar karena diobati. Padahal yang betul adalah Obat Anti Nyamuk. Itu sebabnya di negara tetangga disebut Racun Nyamuk, dan bukan Obat Nyamuk.

Bagaimana dengan pelayanan di rumahsakit? Apakah selama ini sudah memuaskan? Keluhan pelayanan yang buruk di rumahsakit (terutama) pemerintah sudah menjadi rahasia umum. Rumahsakit, merupakan terjemahan bahasa belanda Zijken Huis. Sementara dalam bahasa Inggris adalah Hospital. Apa maknanya, hospitality adalah pelayanan dengan memberikan penghormatan yang sebaik-baiknya.

Memberikan penghargaan belum menjadi budaya juga terbukti pada nasib penjaga palang pintu Kereta Api. Kalau ada KA yang menabrak mobil misalnya, maka penjaga palang pintu itu langsung diusut, dicari-cari kesalahannya. Meski tidak jadi tersangka, minimal dia direpotkan oleh pemeriksaan yang menjengkelkan.

Tetapi sebaliknya, apa yang telah diberikan kepada penjaga tersebut ketika kondisi aman-aman saja sepanjang tahun? Apakah penjaga palang pintu KA pernah mendapatkan penghargaan yang sepantasnya? Jangan tanya berapa penghasilannya, malu mengetahuinya.

Nasib yang sama juga menimpa tukang sampah yang setiap hari rajin mendorong gerobak, bergelut dengan bau busuk. Mereka juga tak pernah ditoleh, tapi langsung dimarahi ketika sehari kemarin tidak menjalankan tugasnya.

Begitu pula dengan Polisi Lalu Lintas (Polantas) yang rajin mengatur arus lalulintas, tak perduli panas dan hujan, siap mendorong mobil mogok, sigap membantu menyeberangkan anak-anak, perempuan dan orang tua. Dan yang paling penting, tak mempan disogok. Jenis polisi seperti ini juga layak mendapatkan penghargaan.

Memberi penghargaan, memang harus dibudayakan, jangan hanya membudayakan memberikan hukuman. Budaya reward sebaiknya dimulai dari pemerintah, tetapi semua pihak juga sangat baik melakukannya.

Bisa dimulai dari dalam rumah sendiri, yakni memberi hadiah buah rambutan ketika anak kita mau menyikat sepatunya sendiri. Kita sebagai orangtua tidak perlu malu bilang “terima kasih” ketika anak kita membukakan pintu ketika kita hendak lewat.

Memberi penghargaan, mulai saat ini, dan dari diri sendiri. Kapan lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s