Potensi Seni Rupa Mojokerto

oleh Henri Nurcahyo – Swara Majapahit

Jika ada yang bertanya, bagaimanakah potensi seni rupa Mojokerto? Maka para perupa Mojokerto yang akan menjawabnya. Bukan dengan kata-kata, melainkan langsung dengan perbuatan nyata. Hal ini akan langsung menepis anggapan bahwa perupa Mojokerto adem ayem. Tak bakal ada anggapan bahwa potensi perupa Mojokerto disangsikan keberadaannya.


Salah satu bukti nyata yang bakal digelar dalam waktu dekat ini adalah Pameran Seni Rupa yang diselenggarakan untuk memeriahkan HUT Radar Mojokerto, mulai tanggal 1 Maret nanti. Ini adalah pameran pemanasan sebelum digelar pameran lebih besar lagi, bulan Juni, dengan titel “Dulur Mojokerto Menyapa 4”.

Pameran yang disebut terakhir itu memang menjadi kebanggaan kalangan perupa Mojokerto. Pameran ini kali pertama diselenggarakan di Galeri Surabaya, tahun 2001. Pameran itu mendapat sambutan yang meriah, berlangsung sukses, sehingga muncul gagasan untuk menjadikan pameran rutin dengan titel yang sama.

Maka tahun berikutnya digelar pameran dengan nama yang sama, dilangsungkan di Malang. Kesuksesan kembali diraih, sehingga pameran “Dulur Mojokerto Menyapa 3” kemudian diselenggarakan besar-besaran di gedung Kusuma Bangsa, Mojosari, bulan Mei tahun 2005. Waktu itu, hajat Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) ini diikuti oleh 65 seniman yang menjadi kebanggaan kabupaten ini. Tekat untuk melanjutkan serial pameran ini sudah ditancapkan di sini, sebagaimana tertulis pada lembar terakhir katalognya; Sampai Jumpa di Dulur Mojokerto Menyapa 4.

Sementara itu, sejalan dengan persiapan pameran DMM-4 bulan Juni nanti, sudah disiapkan penerbitan buku “Apa Siapa Perupa Mojokerto” yang nantinya akan diluncurkan bersamaan dengan pembukaan pameran tersebut. Tidak berhenti di sini, dalam waktu yang tidak lama lagi juga dipersiapkan penerbitan buku “Majapahit dalam Lukisan Sketsa” karya para pelukis Mojokerto.

Meski demikian, kegiatan pameran perupa Mojokerto bukan hanya berupa serial DMM itu saja. Tahun lalu digelar pameran seni rupa di Mojokerto kota, dan juga pameran di pelosok desa wisata, yaitu di Galeri Amanah, di kawasan Trowulan. Meski di desa, kualitas pameran di Trowulan ini patut diperhitungkan. Karena Trowulan adalah desa wisata, dengan kebanggaan sebagai pusat bekas kerajaan Majapahit. Dan di sini ada galeri Amanah, ada galeri Gulo Kelopo, dan bersebaran para perupa seni kriya yang khusus mengerjakan karya patung batu dan patung logam serta gerabah.

Perupa Kebanggaan

Mojokerto patut bangga, karena ada Joni Ramlan, perupa yang tinggal di Seduri, Mojosari. Penerima Radar Mojokerto Award Tahun 2007 Bidang Seni Budaya ini, lahir di Sidoarjo, 19 Juni 1970, Beberapa aktivitas pameran bergengsi pernah diikutinya di berbagai kota, Salah satu karyanya masuk balai lelang Masterpiece dan menjadi rebutan para kolektor Jakarta .

Joni Ramlan adalah satu-satunya pelukis yang karyanya termasuk dalam 36 finalis karya seni Indonesian Art Award 2008. Prestasi itu diumumkan pada 7 Juli. Untuk masuk final, Joni menyisihkan 3.200 karya seni. Di antara 3.200 kontestan itu, 2.900 adalah lukisan.

Ada lagi, namanya Alfie Fauzie, pelukis asal Mojosari kelahiran 25 Juni 1971 dan kembali pulang ke Jalan Brawijaya Mojosari, setela sempat merantau. Awik, begitu panggilan akrabnya, sempat terjerat narkoba dan hijrah ke Bali. Maka melukis baginya merupakan terapi penyembuhan dari kecanduan narkoba. Perjalanan panjangnya sebagai pelukis telah ditorehkan pada sederetan panjang pameran bersama baik di Indonesia maupun mancanegara sejak tahun 2000.

Pak Cip, panggilan akrab Hadi Sucipto, adalah kebanggaan lainnya lagi dari perupa Mojokerto. Ketua Biro Seni Rupa Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto ini aktif berpameran di berbagai kota dalam even-even bergengsi, dan beberapa kali meraih penghargaan dalam kompetisi seni rupa regional maupun nasional. Karyanya berjudul “Mo Limo” sempat menyentak perhatian ketika dipamerkan di Surabaya. Dan ternyata, mendapat penghargaan dalam Biennale Seni Rupa Jatim.

Sedangkan Yusach NH, adalah pematung professional yang dimiliki Mojokerto. Berbagai karya patung monumental telah dikerjakannya. Disamping membuat patung, perupa senior ini juga melukis. Potensi perupa lain misalnya Eminx Sujalma dan juga Nanang Moeny. Nama yang disebut terakhir ini mendirikan dan mengelola Gulo Kelopo Art Gallery di Trowulan, juga dikenal sebagai pematung batu yang professional.

Nama-nama perupa Mojokerto yang juga menjadi kebangaan , antara lain: Koesen LD, perupa senior alumnus ASRI, dan aktif dalam aktivitas kebudayaan, pernah mendirikan dan memimpin Himpunan Budayawan Mojokerto (HBM). Di institusi yang sama juga ada nama Guido Gathuk S, yang sekaligus mantan ketua Dewan Kesenian Mojokerto (DKM).

Selain itu, masih ada Mpu Harrys Poerwa, Gusar Suryanto, M.Nurul Baderi (Mamak), Mas Ronny, dan masih banyak lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s