NIGEL BULLOUGH, Arkeolog Inggris yang Cinta Budaya Nusantara

oleh Prayogi waluyo

KEBESARAN dan kejayaan Majapahit hingga saat ini masih sebuah misteri. Banyak kitab kuno atau kakawin yang ada maupun prasasti tinggalan yang sudah dipelajari banyak arkeolog Indonesia dan asing, tapi semua kekayaan nusantara itu belum mampu mengungkap secara gamblang tentang Majapahit yang sebenanya.
Salah satu arkeolog itu adalah NIGEL BULLOUGH. Budayawan kelahiran Inggris pada tahun 1952 ini sangat tertarik melakukan riset dan mengungkap kebesaran budaya milik Bangsa dan Negara Indonesia. Misalnya kebesaran dan kejayaan yang ditinggalkan Kerajaan Majapahit yang dibangun Raden Wijaya dan dinobatkan sebagai raja pada 10 November 1293 dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
Kuatnya ketertarikan ayah dari satu putri ini dibuktikan dengan bergabung pada Yayasan Nandiswara yang berpusat di Jakarta. Yayasan ini bergerak di bidang dokumentasi Publikasi serta Pelestarian Budaya Nusantara. Aktifitasnya yang sudah dilakukan pada tahun 1986 – 1988 bekerjasama dengan Kanwil Parpostel DIY, untuk mempromosikan wisata budaya di Yogyjakarta dan Jawa Tengah.
Kemudian pada 1989 – 1994, Nigel menjadi anggota Tim Penyusun Buku Promosi Pariwisata Jawa Timur dan telah menulis sejumlah buku maupun artikel yang menyangkut sejarah dan budaya Indonesia, seperti Discovering East Java (1990), The Glorius Century (1991), Walisongo Pilgrimage (1992), Memories of Majapahit (1994), Historic East Java (1995) serta Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca (2007).
Kejutan baru yang ditunjukkan pria yang juga dikenal dengan nama Hadi Sidomulyo ini, adalah ide kreatifnya memvisualisasikan perjalanan dinas Prabu Hayam Wuruk ke wilayah timur Pulau Jawa sebagaimana tersurat dalam Kakawin Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1359. Karya visualnya berupa 49 foto dokumentasi eksklusif itu dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS) Surabaya, 10 September – 4 Oktober.
Acara yang digelar oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama dengan House of Sampoerna itu, merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati 650 tahun perjalanan kerja Raja Hayam Wuruk mengelilingi bagian timur Pulau Jawa.
“Dokumentasi foto itu merpakan hasil riset dengan merekam keadaan desa, lingkungan alam, dan bangunan suci peninggalan Majapahit pada rentang waktu antara 1996-2004,” kata Nigel dengan menambahkan, bahwa karya fotnya itu bersumber dari bukunya Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca yang terbit tahun 2007.
Sedangkan rangkaian acara dari peringatan 650 tahun rute Majapahit itu diawali dengan seminar dan pameran artefak Majapahit di Balai Pemuda, Surabaya, 05 – 09 September. Selain itu, seminar “Jurnalisme Prapanca dan Prospek Pariwisata Rute Majapahit” di Function Hall di House of Sampoerna, 30 September.
Obsesi yang mendorong Nigel Bullough dalam memvisualkan perjalanan dinas Prabu Hayam Wuruk seperti yang tersurat dalam Negarakretagama itu. Menurut pria berpenampilan sederhana ini, keinginan memperkenalkan dan mengajak masyarakat Indonesia saat ini untuk mencintai budaya dan sejarah bangsa Indonesia. Mengenal rute perjalanan dinas Prabu Hayam Wuruk ke wilayah timur Pulau Jawa, yang banyak menunjukkan banyak jalur wisata yang potensial untuk dikembangkan.
”Saat perjalanan dinas Prabu Hayam Wuruk berupa Kakawin Negarakretagama pasi hanya para arkeolog dan anthropolog saja yang tertarik. Saya yakin masyarakat masa kini akan tertarik untuk mengenal isi kitab kuno tersebut, setelah sebagian isinya saya visualkan dalam bentuk foto eksklusif,” kata Nigel di aula House of Sampoerna, Senin (7/9).
Situs Pemujaan
Sosok Nigel Bullough sebagai arkeolog asing yang cinta budaya nusantara kian moncer, setelah ia terlibat dalam proses ekskavasi (penggalian) situs di Dusun Babadan, Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri yang dilakukan arkeolog Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, pada November 2008 lalu.
Proses penggalian itu berjalan sukses dengan ditemukannya sebuah situs yang kemudian dikenal dengan nama Situs Babadan. Keberadaan situs tersebut diyakini sebagai tempat pemujaan. Prediksi ini berdasar temuan tim BP3 atas sebuah bangunan semacam altar di kedalaman tiga meter dari permukan tanah. Juga, pripih tempat sesaji pemujaan yang terbuat dari bahan semacam batu berbentuk kubus. Panjang masing-masing sisi sekitar 12 centimeter dengan kedalaman ruang dalam sekitar 12 centimeter. Pripih dalam tradisi Hindu kuno dipergunakan sebagai pelengkap pemujaan.
Bangunan yang menyerupai altar, diduga merupakan bangunan yang menjadi pintu masuk menuju candi. Terbuat dari tatanan batu bata besar. Panjang sisi bangunan masing-masing sekitar 2 meter dengan tingginya sekitar 1,5 meter. Namun bagian atas bangunan itu tidak ada, sehingga belum bisa diketahui bentuk atau wujud aslinya.
Sebelum penemuan situs itu para arkeolog menemukan sebuah pondasi bangunan dan uang kepeng Cina dari kedalaman 1,5 meter. Penemuan yang sama pada awal September 2008, seorang warga Dusun Babadan menemukan sedikitnya enam buah arca. Keenam temuannya berupa batu segi empat yang salah satu sisinya bergambar wajah raksasa dengan panjang 60 cm, lebar 78 cm dan tebal 18 cm. Di bawahnya terdapat batu persegi dengan panjang 70 cm, lebar 78 cm dan tebal 18 cm. Di batu-batu ada semacam tulisan.
Di sebelah batu persegi itu arca lebih besar serupa arca dwarapala yang posisinya tengkurap dengan bentuk muka serupa kera. Tinggi arca 98 cm, lebar 105 cm dan tebal 45 cm. Di dekat arca itu ditemukan potongan arca kepala dengan tinggi 48 cm, tebal 35 cm dan lebar 45 cm. Di dekatnya lagi ada kepala Ganesha serupa gajah bertinggi 16 cm, tebal 17 cm dan lebar 17 cm.
Temuan-temuan itu membuat para arkeolog menyimpulkan, bahwa situs Babadan terkait dengan Tondowongso yang merupakan peninggalan jaman kerajaan Kadhiri (Kediri) awal yang dibangun pada abad XI. Arca Tondowongso yang diamankan ke Trowulan merupakan arca Hindu, yaitu Arca Brahma, Syiwa, Durga, Lingga, Yoni dan Lembu Andini. Arca-arca itu terbuat dari bahan batu andesit yang sangat berat. Kehalusan arca Tondowongso lebih halus dibanding arca Pradnya Paramita yang disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Keberadaan Candi
Temuan Situs Babadan oleh tim BP3 Trowulan itu, ternyata membuat Nigel kian yakin akan keberadaan candi lain di dekat situs tersebut. Dalam dugaannya candi yang ada di dekat situs peningalan kerajaan Kediri kuno abad XI itu berdama Candi Prudung. Wujud candi ini jah lebih besar dari Situs Babadan yang ditemukan sebelumnya.
Dasar analisis pria yang selama 30 tahun meneliti situs arkeologi di Indonesia itu, adalah sejumlah referensi dan hasil survey yang dilakukan. Misalnya, laporan F.D.K. Bosch dalam Buletin RCO (1915) yang menyebutkan Candi Prudung terletak di dusun Sumberagung, dekat dusun Babadan.
Catatan Bosch itu berdasar keterangan dalam buku History of Java karya Raffles. Dalam buku yang terbit tahun 1817 itu menjelaskan, bahwa Candi Prudung terletak 8 mil (12.8 km) di sebelah barat daya Candi Tegowangi di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Candi Prudung terbuat dari bata merah, dengan arca serta relief dari batu andesit. Di dalam candi terdapat ruang di empat sisi, seperti halnya candi Singosari.
Dari penghitungan jarak antara candi Tegowangi ke Desa Sumbercangkring memang sekitar 12 kilometer. “Raffles mencatat bahwa Candi Prudung adalah candi terbesar yang dia temukan dalam perjalanan dari Magetan, melalui Madiun, Nganjuk, Kertosono dan Kediri,” ujar Nigel di sela-sela jumpa pers 49 dokumentasi foto ekslusif perjalanan dinas Prabu Hayam Wuruk.
Pria berambut perak ini yakin, antara situs Babadan dengan Candi Prudung memiliki sebuah keterkaitan. Keyakinannya iu berdasar buku berjudul “Nama-nama Dusun Dalam Desa di Jawa Timur” terbitan SEKWILDA Propinsi Jawa Timur. Dalam buku itu disebutkan Desa Sumbercangkring terdiri dari tiga dusun, yaitu Dusun Babadan (di sebelah barat), Dusun Sumbercangkring (tengah) dan Dusun Sumberagung (timur).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s