Penjara, Lumbung Uang Aparat Kejaksaan

Buku catatan Baharmi
oleh:rokimdakas
Jika tidak punya uang jangan masuk penjara. Ungkapan ini sering terlontar di lingkungan penjara terutama bagi nara pidana (napi) yang sedang mengharapkan sesuatu namun tidak punya uang. Jika ada yang menganggap dalam hotel prodeo itu serba gratis maka siap-siaplah mati berdiri sebab biaya hidup di dalam penjara begitu tinggi.

Di tengah pencitraan lembaga hukum di Indonesia, Satgas Hukum bentukan Presiden SBY mengunjungi Artalita Suryani di LP Pondok Bambu, markus kakap penyuap Jaksa Agung Muda Urip Tri Gunawan sebesar Rp 6 miliar itu dan ternyata menempati kamar luks sekelas hotel berbintang.

Gebrakan itu cukup menyita perhatian media massa namun setelah itu semuanya kembali sunyi. Tidak ada yang melakukan investigasi memeriksa kamar Aulia Pohan, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang terjerat kasus korupsi.

Ketika tidak ada lagi gebrakan tentang fasilitas istimewa di lingkungan penjaga tiba-tiba muncul buku tentang kehidupan di balik penjara dalam bukunya “Napi 973 Hari” karya Baharmi. Ini merupakan kisah nyata penulisnya yang pernah mendekam selam 4 tahun di rutan Medaeng Surabaya.

Begitu satire, mengharukan sekaligus mengerikan, betapa mental aparat penjara dan kepolisian begitu bobrok. Semua diungkap secara partisipatoris dan merupakan cermin kehidupan penjara di Indonesia.

Pada acara bedah buku yang berlangsung di Kapas Krampung Plaza Surabaya mengetengahkan narasumber Roy Marten yang pernah dititipkan di rutan Medaeng juga Prof. Sam Abede Pareno, Drs.H.Yusuf Husni, Apt dan Sabrot D Malioboro dengan moderator HM. Zakki (26/02).

Menurut Baharmi, banyak persiapan yang kudu dilakukan seseorang sebelum masuk bui, selain mental juga dana. Ketika seorang napi kali pertama menginjakkan kaki di dalam penjara maka jangan heran bila mendengar tawaran menggiurkan.

“Kamu tidak perlu tidur di karantika. Di karantina campur dengan ‘ai’ (anak ilang), dengan maling, pencopet, penodong. Nanti kamu diperas, barang-barangmu bisa amblas. Kalau tidur dalam posisi duduk karena tidak cukup tempat. Mereka juga jahat dan suka menyiksa tahanan baru. Lebih enak langsung ngeblok saja.”

Tanpa pikir panjang Baharmi menerima rayuan tersebut seraya mengamini beberapa permintaan. Untuk biaya tol Rp 100 ribu kemudian harga kamar di Blok F Rp 1 juta, kasur dan bantal Rp. 400 ribu.

Secara terinci dia paparkan, untuk Blok H yang kebanyakan penghuninya kasus korupsi dan penggelapan Rp 3 juta, Blok D dipatok Rp 10 juta dan Blok G Rp 500 ribu. Yang paling murah adalah Blok A, B dan C hanya Rp 200 ribu tapi penghuninya bertumpukan seperti ikan pindang.

Masalah biaya apa sampai di situ? Ternyata masih ada pungutan untuk uang kamar, uang kebersihan blok, iuran mingguan kamar, uang listrik, uang air dan masih ada lagi kutipan tak terduga untuk acara-acara perayaan hari besar. Pendeknya, penjara merupakan lumbung uang bagi aparat kejaksaan.

Seorang napi bernama Handoko harus membayar ‘dek-dekan’ – biaya kos di dalam rutan agar tidak dipindahkan ke LP – tiap bulan Rp 750 ribu, iuran kamar sebulan Rp 200 ribu, bayar katering tiga kali sehari sebesar Rp 15 ribu, sebulan total Rp 450 ribu, beli rokok sebulan sampai Rp 300 ribu Untuk bayar tukang cuci pakaian sebulan Rp 50 ribu. “Pengeluaran wajib sebulan total Rp 1.750.000,” rincinya.

Umumnya napi paling enggan pindah dari Rutan Medaeng karena kehidupan di LP lebih menyakitkan. Karena itu, banyak yang ingin tetap di Rutan Medaeng sampai datang masa pembebasan.Untuk makan, memang tidak perlu risau. Ada jatah makan tiga kali sehari. Namanya nasi cadong dengan lauk pauk seadanya. Nasi kering dan keras, ditambah tempe dan sayur.

Makanan tadi tidak dibagi langsung dari kamar ke kamar. Tamping yang bertugas di dapur mendorong gerobak makanan ke depan blok. Pada saat yang sama, para penghuni blok, para napi yang sudah kelaparan menyerbu. Setelah itu, mereka mencari tempat berteduh, dengan tangan yang tidak perlu dicuci, melahap cadong.

Baharmi tidak hanya mengungkapkan kisah kehidupannya di Rutan Medaeng tetapi juga saat ditahan di Kapolwiltabes Surabaya. Dengan judul ‘Wisata 86’ dia mengungkapkan kepolisian setempat memberi peluang bagi tahanan lelaki di ruang bagian bawah bila ingin refreshing di tempat tahanan wanita di ruang atas.

Bukan sekedar jalan-jalan tetapi bagi yang punya pacar bisa melakukan hubungan intim. Bila menggunakan kamar mandi taripnya Rp 50 ribu dan Rp 200 untuk tempat yang lebih nyaman.

Kehadiran karya Baharmi ini sepatutnya dijadikan acuan bagi Satgas Hukum untuk bergerak secara berani tidak sekedar lips operation. Jika penjara bisa dibeli oleh para koruptor, bandar narkoba dan kaum bandit apa lagi yang bisa diharap?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s