Dhimam Abror Djuraid : Saya Tidak Mungkin Menjadi Walikota Kapal Keruk

oleh: prima sp vardhana, prayogi waluyo

PETA persaingan bakal calon walikota (bacawali) Surabaya 2010-2014 kian seru. Kendati kekuatan antar bacawali terlihat tak seimbang, tapi nuansa demokratis yang ditawarkan sangat terasakan. Dus, masyarakat Surabaya pun dapat dipastikan sebentar lagi akan menjadi penguasa sementara, karena suara yang dimiliki sangat dibutuhkan para peserta Pilwali (Pemilihan Walikota) sebagai tiket merebut “tahta” L-1.
Serunya bursa pencalonan yang sudah diikuti Arif Afandi (Wakil Walikota), Wisnu Wardhana (Ketua DPC Partai Demokrat Surabaya), Fandi Utomo (mantan Ketua Tim Pemenangan SBY-JK putaran pertama), Saleh Ismail Mukadar (Ketua PDIP Surabaya), Eddy Gunawan Santosa (jalur independen), ternyata pada 9 Januari lalu bertambah satu lagi dengan kenekatan Dhimam Abror Djuraid mendeklarasikan dirinya maju dalam bursa Pilwali.
Lewat sebuah acara deklarasi yang sangat sederhana di pertigaan Taman Apsari Surabaya (depan patung Joko Dolog, red) Surabaya, yang dihadiri ratusan teman seprofesi, ratusan bonekmania, beberapa tokoh masyarakat dan sesepuh kota Surabaya seperti mantan Wakil Gubernur Jatim Trimarjono, dosen Unair Suparto Wijoyo, dan Ketua Komisi B DPRD Surabaya Moh. Mahmud. Juga, dua kandidat Pilwali lain yaitu Saleh Ismail Mukadar dan Eddy Gunawan Santosa, ternyata Abror yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim memastkan diri ikut berjibaku memperebutkan status Walikotamadya Surabaya Periode 2010-2014.
“Saya nekat maju dalam Pilwali, karena dipicu rasa prihatin akan keadaan Kota Surabaya yang mulai meninggalkan unsur kebudayaan, khususnya untuk kalangan generasi muda. Dengan terlena simbol-simbol kemodernan seperti plaza, mall dan lainnya, saya menjadi ragu akan identitas kota ini kedepannya nanti,” kata Abror didampingi istri dan dua anaknya.
Berbeda dengan para bacawali lain yang mendeklarasikan diri dengan bermodal kekuatan struktural seperti yang dilakukan Arif Affandi, Wisnu Wardhana dan Saleh Ismail Mukadar. Atau dengan kekuatan materi seperti yang ditunjukkan Fandi Utomo dan Eddy Gunawan Santosa. Modal yang diusung Abror adalah status aslinya sebagai “Arek Suroboyo” yang lahir dan dibesarkan di daerah Tandes, Surabya Barat.
Modal status diri yang berpeluang menjadi bahan ketawaan itu, ternyata diyakini Pemimpin Redaksi Harian Sore Surabaya Post ini, pada saatnya nanti mampu memagis masyarakat Surabaya untuk memberikan suara padanya. Ini karena status diri itu sebagai jaminan, bahwa dirinya nanti akan tulus dalam mengabdikan diri terhadap amanah yang diberikan masyarakat. Bukan sebagai “Kapal Keruk” penyelewengan APBD Surabaya, untuk mengembalikan modal rupiah yang dibuang ke masyarakat untuk mendapatkan suara dukungan merebut.
“Saya tidak mungkin menjadi Walikota Kapal Keruk. Wong modal pencalonan saya kenekatan dan kepercayaan dari masyarakat, sehingga saya tidak punya beban untuk mengembalikan modal rupiah dalam pencalonan,” kelakarnya saat disentil tentang kelakuan mayoritas para pemimpin daerah, setelah memenangkan Pilkada dan memegang jabatan serta kekuasaan.
Janji Abror untuk menjadi seorang Walikota yang amanah (dapat dipercaya), amin (jujur), fathonah (cerdas), tabliq (menyampaikan yang didengar), dan sidiq (benar) sebagaimana sifat Rasulullah itu bukanlah sebuah kemuskilan untuk terjadi. Pasalnya ia dibesarkan dalam sebuah keluarga Muhammadiyah yang zakelijk dalam melaksanakan aturan Islam. Saat dewasa dan beprofesi wartawan Harian Pagi Jawa Pos, kehidupannya dimatangkan dalam sebuah kehidupan Islam yang moderat dan pluralist sebagaimana karakter keislaman yang menjadi ciri khas para Kyai dan kaum Nahdliyin NU.
Selain itu, status dirinya itu ditembakkan dengan target untuk mengetuk nurani masyarakat Surabaya, bahwa sudah saatnya kota yang dihuni sekita 4 juta jiwa ini dipimpin seorang Walikota yang arek Suroboyo asli. Sebab sudah terbukti dan teruji, bahwa Walikota yang berasal dari luar kota Surabaya sangat kurang sempurna dalam mengelola kebutuhan masyarakat Surabaya.
Belajar dari kondisi sosial masyarakat Surabaya yang kurang terperhatikan kebutuhannya dalam hidup, maka dia yakin hanya Walikota yang Arek Suroboyo asli saja yang mampu memenuhi mayoritas kebutuhan masyarakat Surabaya.
“Saya asli arek Suroboyo asli yang dilahirkan dan dibesarkan di Tandes, maka saya sangat paham dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Surabaya di era globalisasi ini,” ujarnya dengan dialek Suroboyoannya yang medok diikuti dengan joke-joke segar tentang hilangnya kearifan lokal masyarakat Surabaya.

Menunggu Godot
Kendati mendapat dukungan penuh dari para koleganya di dunia media yang menjanjikan sebuah kepopuleran di masyarakat, ternyata Abror yang juga Pemimpin Redaksi (Pimred) Harian Sore Surabaya Post ini mengaku, sapai 21 Januari belum menmendapatkan kendaraan politik yang mendukung perjuangannya maju ke ring Pilwal 2010.
“Sampai saat ini, saya belum mendapatkan kendaraan politik yang mendukung pencalonan saya. Namun, saya yakin jika saatnya tiba, sebuah kendaraan politik yang menjanjikan peluang merebut kursi L-1 pasti mendukung perjuangan saya membangun dan memperbaiki Surabaya,” katanya di sekretariat PWI Jatim Jl. Taman Apsari.
Memang, penantian Abror untuk mendapatkan sebuah kendaraan politik untuk mendukung pencalonannya itu, secara eksplisit bak alur cerita drama ”Menunggu Godot” (Waiting for Godot), naskah klasik karya Samuel Beckett tentang penantian dua sahabat karib, Vladimir dan Estragon atas kedatangan Godot. Sosok Godot sendiri sesuatu yang tidak jelas sampai akhir cerita. Apakah Godot itu manusia, dewa, Tuhan, penyelamat, uang, atau binatang.
Walau datangnya sebuah kendaraan politik untuk maju ke Pilwali Surabaya 2010, merupakan sesuatu yang belum pasti. Namun pria bertanggal lahir 1 Agustus ini, sangat optimis terhadap pencalonannya tersebut. Pasalnya sejak menyatakan maju dalam Pilwali yang membutuhkan dana miliaran rupiah, ternyata dukungan kepadanya mengalir tidak pernah berhenti. “Banyak teman-teman, kolega, dan masyarakat Surabaya yang mengirimkan dukungan via SMS (pesan singkat), Facebook, ataupun langsung telepon ke saya,” ujarnya.
Alumni Akademi Wartawan Surabaya (AWS) tahun 1984 ini tak terlalu risau, dengan belum datangnya tawaran dari parpol untuk mendukung tekadnya maju ke Pilwali. Ini karena, suami dari Hari Murtijani sangat intens dalam komunikasi dengan semua partai. ”Kita terus melakukan komunikasi politik dengan parpol-parpol,” ujarnya.
Parpol paling intens didekati adalah Golkar. Maklum, Surabaya Post kini dimiliki oleh Aburizal Bakrie, ketua umum Golkar. ”Tapi tidak hanya dengan Golkar. Kami juga menjalin komunikasi dengan PKS, PKB, Gerindra, dan PAN,” tambahnya.
Belum lagi, dukungan yang diberikan Mantan Gubernur Jatim, Basofi Sudirman. Sesepuh Partai Golkar itu silahturahim dengan Abror, 6 Januari sore, di sekretarit PWI Jatim. Keduanya bertemu dalam suasana reuni yang sangat gayeng. Basofi dan Abror seringkali mengeluarkan joke-joke ringan dan segar di tengah-tengah pembicaraan mereka yang materinya berat.
“Surabaya itu kota jasa, makanya pelayanan publik harus diperhatikan. Di sini membutuhkan tipe kepemimpinan yang cerdas dan berani,” kata Basofi kepada Abror.
Soal otonomi daerah (otoda) dan mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung, juga dikritisi pejabat yang mempopulerkan lagu dangdut “Tak Semua Laki-laki” ini. Menurut dia, pemimpin Kota Surabaya ke depan harus memahami persoalan sosial di kota metropolitan itu, seperti urbanisasi, banjir, dan kemacetan lalu lintas. Pasalnya tiga masalah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat itu sampai sekarang belum menemukan solusi. Sebab seorang pemimpin harus mampu memberikan solusi yang terbaik melalui program-program pembangunan.
Merebut Simpati
Dalam pilkada langsung, diakui, ada dua hal yang harus dan perlu diperhatikan. Pertama, akses anggaran. Dan kedua, popularitas. “Untuk masalah yang kedua ini ya kerjaannya wartawan. Di sini Mas Abror sangat tahu dan paham atas masalah itu. Saya yakin dia mampu mengatasi,” ujarnya dengan tersenyum.
Pendapat Basofi itu sangat beralasan. Dasarnya adalah track record Abror yang pernah memimpin sejumlah media massa besar di Jatim, seperti Jawa Pos, Surya, Suara Indonesia, dan sekarang menjabat Pimred Surabaya Post. Karena itu, Basofi sangat optimistis, jurnalis kelahiran Tandes ini mampu merebut simpati, empati, dan dukungan warga Surabaya pada pilkada nanti. “Saya yakin akan banyak masyarakat Surabaya yang mendukung Mas Abror, sehingga tinggal mempersiapkan kendaraannya untuk maju ke arena Pilwali,” ujarnya.
Dukungan yang dilakukan Basofi juga dibuktikan dengan menelepon seorang petinggi partai besar di Jakarta untuk menginformasikan pencalonan Abror dalam pilkada Surabaya, di sela-sela pertemuannya dengan Abror. Mantan orang nomor satu di Jatim ini mengingatkan petinggi parpol itu, bahwa Abror adalah figur yang kapabel, kompeten, dan akseptabel untuk diajukan dalam pilkada Surabaya. Karena itu, layak dipertimbangkan oleh elite parpol untuk dijagokan.
Setelah Basofi meninggalkan kantor PWI, giliran Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, berkunjung ke tempat berkumpulnya para wartawan di Jalan Taman Apsari, Surabaya itu. Kedatangan Gus Ipul disambut pengurus PWI Jatim, seperti Ketua H Dhimam Abror Djuraid dan pengurus lainnya. Datang dengan mengendarai Toyota Alphard dan hanya ditemani seorang ajudan, Gus Ipul tampil dengan ‘corak aslinya’ yang kaya humor dan jauh dari kesan formal.
Gus Ipul juga terlihat enjoy dan santai ketika bertemu Abror. Orang kedua di Jatim itu mengingatkan kepada Abror dan timnya untuk memperhatikan media massa, baik media massa cetak, televisi, radio, dan online dalam konteks merebut dukungan di akar rumput. Sebab, berdasar survei satu lembaga yang kredibel dan reputasinya bagus, bahwa sekitar 80% penduduk Surabaya itu mengakses media massa. “Media massa itu sangat penting dalam pilwali nanti, karena media massa memang diakses warga Surabaya,” ingatnya.
Saiful pun menyatakan, dukungannya terhadap Abror untuk ikut meramaikan bursa calon Wali Kota Surabaya periode 2010-2015 itu. “Kami mengapresiasi langkah yang ditempuh Pak Abror, karena sampai sekarang langkah semua calon belum ada yang jelas,” kata Ketua Umum GP Ansor itu.
Usai mendapatkan dukungan dari mantan Gubernur Jatim, Basofi Sudirman dan Wagub Jatim, Saifullah Yusuf. Abror pun menjalin komunikasi politik dengan berbagai pihak. Road show yang dilakukan selain untuk mendapatkan dukungan dan doa, juga untuk memperoleh masukan bila nanti terpilih menjadi Walikota Surabaya.
Saat menemui tokoh pers Jatim yang juga Ketua Yayasan Gerontologi Abiyoso (YGA) Jatim, Trimarjono, misalnya. Abror mendapat amanah agar memperhatikan nasib lansia di Jatim khususnya di Surabaya. Lansia yang ada di Surabaya, menurut Trimarjono, mayoritas tidak memiliki pendapatan sendiri, sehingga mereka menjadi beban keluarga. Dengan kondisi seperti itu, maka kehidupan lansia menjadi sangat memprihatinkan. “Hanya sekitar 20 persen saja lansia yang berasal dari pensiunan,” katanya.
Karena itu, mantan Sekdaprov selama 18 tahun ini berharap bila Abror nanti terpilih menjadi walikota, hendaknya memberi perhatian serius terhadap persoalan ini. Selain itu, Trimarjono juga berpesan agar ketika menjadi pemimpin memiliki sikap seperti sopir, yakni jangan hanya melihat depan saja. *ima/pw1

Biodata Dhimam Abror Djuraid

Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 1 Agustus 1964
Kota Asal : Surabaya Indonesia
Status Hubungan : Menikah
Istri : Hari Murtijani
Anak : Jordan dan Fahmi
Agama : Islam

Informasi Pribadi
Aktivitas : Wartawan
Minat : Bola, nulis, baca, nyanyi (kalau ada yang ngajak)
Film Favorit : The Name of the Rose, terakhir nonton ‘Australia’ dan Mamamia
Penulis Favorit : Fukuyama, Amartya Sen, Thomas Friedman, Goenawan Mohamad, Jakob Oatama, barusan baca ‘The Sum og Our Days’ Isabel Allende
Kutipan Favorit : Betapa sempitnya usia kalau bukan karena luasnya cita-cita (Al-Manfaluthi ya..?)
Pendidikan : AWS 1984, Madrasah Aliyah Negeri Surabaya 1981
Lembaga/Perusahaan: Harian Sore Surabaya Post
Email : ror@surabayapost.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s