Wisata Kampung Surabaya, Kekayaan yang Terpendam

oleh: rokimdakas

Begitu banyak yang bisa ditawarkan oleh Kota Surabaya sebagai tempat menghibur diri namun hanya beberapa lokasi yang ditetapkan sebagai obyek wisata. Bagi yang merasa bosan dengan sajian resmi dinas pariwisata maka ada baiknya menjajal menu alternatif yaitu wisata kampung. Setelah menyaksikan banyak yang berkomentar, bila ingin melihat Surabaya sebaiknya berjalan-jalan dari kampung ke kampung. Mau?

Baru lalu Indonesianis dan peneliti dari beberapa universitas di Indonesia mengikuti konferensi tentang kampung di Surabaya Plaza Hotel bertajuk International Conference Urban Kampong. ICUK merupakan kerjabareng antara Australia dan Belanda sedangkan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya berperan sebagai sebagai tuan rumah (18-22/01). Di penghujung acara para peserta ingin menyaksikan perkembangan kampung Keputran dan Dupak Bangunsari, dua kawasan padat hunian dengan setting berbeda. Sebuah potret kaum urban yang berusaha survive di celah-celah perkotaan.
Semula mereka ditawari beberapa kampung yang berhasil meraih predikat kampung bersih dan hijau namun Freek Colimbijn, Annemarie Sammuel, Ratna Saptari dari Belanda, Lea Jellinek, Robbie Peters dari Australia, Michelle Forel (Kanada) maupun Dahlia Gratia (AS) tertarik pada Tour de Kampung Keputran dan Dupak Bangunsari.
Waktu masih tengah hari namun langit tampak gelap oleh gumpalan mendung. Tur dimulai dari ujung kampung Karangbulak yang sempit berpagar gedung megah, Hyatt Hotel dan BRI Tower.
Diiringi gerimis, mereka mulai menyusuri lompongan, lorong selebar setengah meter yang banyak terdapat di perkampungan lawas. Saking sempitnya akses peserta touring harus jalan beriringan ala semut dipandu para mahasiswa jurusan sejarah, Docnet dan KaDo (Kampong Documentary).
Kawasan Keputran terdiri atas lima kampung yang posisinya sambung menyambung, bila menyusuri dari Karang Bulak di sebelah utara akan bertemu dengan Keputran Pasar Kecil, Kedondong, Keputran Pejambon dan Keputran Panjunan di ujung selatan. Perkampungan padat penduduk ini dihuni oleh sebagian besar urban dari Lamongan, Mojokerto, Ngawi, Kediri, Malang, Madura dan Jawa Tengah.
Yang unik pada perkampungan di Surabaya selain terdapat gang sebagai akses jalan juga terdapat ‘lompongan’, jalan setapak yang sempit. Lompongan inilah yang menjadi satu-satunya akses jalan bagi penghuni rumah di sekitar lorong kampung.
Setelah melewati ‘pintu gerbang’ kampung Karangbulak berupa Hyatt Hotel dan BRI Tower peserta touring memasuki lompongan pertama yang menghubungkan antar-gang. Dalam lompongan ini mereka menyaksikan betapa banyak orang yang menempati tempat tinggal yang tidak layak huni. Tapi itulah kemampuan mereka agar bisa berteduh dengan tarif sewa sekitar Rp 100 – Rp 150 ribu per bulan, mereka menempati rumah petak di tengah lompongan di pusat kota metropolitan bernama Surabaya.
Beberapa Ketua RW di kawasan Keputran mengakui, diantara warga musiman, yang paling sulit diatur adalah ‘orang Argentina’ sebutan bagi urban asal Madura. Menurut mereka, ciri kawasan yang mereka huni cenderung kumuh dan karena sulit diarahkan supaya rapi, bersih, sehat dan nyaman.

KAMPUNG YANG HILANG
Medio 1970, warga Karangbulak senantiasa dihantui penggusuran. Kampung tersebut terdiri atas 4 kampung. Gang 3 dan 4 dirobohkan untuk pembangunan Hyatt Hotel kemudian tahun 1984 mencaplok sisanya. Menurut Danu (53), tokoh masyarakat yang masih tinggal di Karangbulak, saat itu aparat Koramil mengintimidasi warga yang menolak menjual rumahnya akan dicap penganut PKI, cara Orde Baru itu amat ditakuti siapapun.
Sementara investor menerapkan politik belah bambu, satu demi satu rumah warga dibeli meski dalam posisi terpencar sementara yang bertahan dibiarkan merana. Lama kelamaan jumlah orang yang bertahan semakin berkurang. Sisa kampung ini terlihat meranggas, tidak ada pembangunan rumah yang berarti.
Selain Karangbulak, beberapa kampung yang hilang antara lain Blauran Kidul tergerus ekpansi gedung Empire. Kaliasin dibeli Tunjungan Plasa, Simpang Jayengan sebrang gedung Grahadi Surabaya hilang begitu saja tanpa pemanfaatan yang jelas. Juga Kucacil dan sebagian Keputran Panjunan yang dibeli Sudwikatmono tahun 1984 ternyata mangkrak kemudian dijarah oleh ‘orang-orang Argentina’ yang sekarang tampak semrawut.
Pada siang hari, di ujung timur Karangbulak menjadi tempat warga memberdayakan potensi ekonominya. Ada yang menjadi tukang parkir, membuka warung di lapak samping Hyatt maupun di teras rumah mereka. Pada saat jam makan siang, kampung tersebut dipadati kalangan pegawai. Namun pada malam hari suasana berubah total, di warung samping Hyatt dijadikan tempat mangkal pekerja seks.
Beda kampung beda pula suasananya. Di Keputran Pejambon hampir setiap rumah membuka toko atau lapak menjajakan makanan. Sasaran pembelinya adalah kalangan anak. Menurut HM. Buang Yusuf SH (60), ketua RW XII, sebagai perkampungan padat penduduk tengah kota yang kondisinya miskin sering menjadi sasaran program USAID dan NGO World Vision. Pada tahun 2000 – 2003 setiap keluarga setiap bulan diberi bantuan 3 kg minyak goreng, 3 kg kacang merah dan 25 kg beras.
Saat mendekati finish melewati gang kecil menuju Jl. Pandegiling terdapat gapura dengan hiasan burung garuda lengkap dengan simbol Pancasila yang sayapnya sempal tak terurus, sama halnya dengan hamparan tanah di sudut-sudut kampung tersebut yang kemudian dijarah karena tidak diurus oleh pembelinya, orang-orang Jakarta.
KAMPUNG SEPUR
Tour de Kampung berlanjut ke arah selatan berjarak 4 km, setelah menanjaki sebuah jalan sempit di Kemayoran Baru orang-orang menyaksikan hamparan rel kereta api jurusan Pasar Turi – Sidotopo, tempat perbengkelan KA. Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah jajaran rumah petak yang berjarak sekitar 1,5 meter dari rel sepur, itulah wajah kampung Dupak Magersari. Memandang kampung sepur yang satu ini serasa menatap wajah lain dari Surabaya.
Menurut Sani, ketua RW, Dupak Magersari dihuni oleh 400 KK atau 2.000-an jiwa tetapi jika ditambah dengan penduduk musiman jumlahnya mencapai 9.000-an orang. Kaum musiman tersebut secara admistratif belum tercatat secara resmi sebagai warga Kota Surabaya karena tempat huniannya dibangun di atas tanah milik PJKA. Umumnya mata pencaharian mereka berdagang makanan, batu akik, perajin alat-alat rumah tangga, pengayuh becak, kuli pasar dan menyewakan kos-kosan.
Setelah menyaksikan ‘kampung sepur’ Lea Jellinek, sosiolog Australia menuturkan, dibanding kawasan Keputran maka keberadaan Dupak Magersari tampaknya lebih baik karena masih ada ruang terbuka. Bagi orang barat, ruang terbuka ini amat penting. Yang menarik lagi adalah, mereka bisa hidup berdampingan, suasana ini tidak bakal ditemui di negara barat. Mungkin dalam tempo 20 tahun ke depan kawasan ini makin berjejal atau bahkan hilang. *kim/pw1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s