Tawuran, Mahasiswa Untan Pontianak Bakar Gedung FISIP Sandera dan Aniaya Wartawan, Larang Beritakan Kejadian

oleh: http://www.jawapos.com

PONTIANAK – Mahasiswa seharusnya mengedepankan intelektualitas dalam menghadapi masalah. Yang terlihat pada mahasiswa FISIP dan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, jauh dari gambaran tersebut.

Mahasiswa dua fakultas tersebut bentrok kemarin (12/3), sekitar pukul 16.30. Tidak hanya saling pukul atau lempar, mereka juga melakukan aksi pembakaran. Yang menjadi korban adalah salah satu gedung FISIP.

Seorang mahasiswa FISIP, Abanus, menjelaskan bahwa tawuran itu sebenarnya berlangsung sejak dua hari terakhir. Pemicunya adalah pemukulan terhadap mahasiswa fakultas teknik pada 10 Maret lalu.

Dalam kegelapan, si pemukul mengaku sebagai mahasiswa FISIP. Tapi, tidak seorang pun mahasiswa FISIP yang mengaku sebagai pemukul itu. “Anak teknik tidak percaya. Malam berikutnya (11/3), anak teknik menyerang FISIP,” jelasnya.

Lalu, kemarin sore para mahasiswa FISIP balas menyerang ke fakultas teknik. Serangan itu dibalas dengan pembakaran base camp FISIP oleh anak-anak teknik.

Intelektualitas para mahasiswa tersebut makin jauh dari harapan. Sejumlah mahasiswa teknik menyandera kontributor televisi swasta, Faisal, selama 1,5 jam.

Selama kurun waktu tersebut, mereka memukuli Faisal. Wartawan Pontianak Post (Jawa Pos Group) Arief Nugroho mengalami kejadian serupa.

Peristiwa itu terjadi sesaat setelah mahasiswa fakultas teknik menyerang dan membakar base camp mahasiswa FISIP. Faisal, yang berusaha merekam kejadian tersebut, diseret secara paksa. “Mereka tanya apakah saya wartawan. Kamera dan kaset saya langsung diambil,” tutur Faisal.

Tidak hanya memukuli Faisal, para mahasiswa itu merampas telepon selulernya dan mencari nomor telepon wartawan lain. “Saya diancam. Mereka mencari sendiri nomor wartawan,” kata Faisal.

Saat Faisal disandera, kontributor televisi swasta lain, Didit, mendapatkan telepon ancaman dari mahasiswa teknik. “Saya minta, itu (pembakaran, Red) jangan sampai diberitakan. Jika sampai diberitakan, kawan kau dan kau berhadapan dengan saya,” ancam suara di telepon tersebut.

Faisal lantas dilepaskan. Namun, kasetnya tidak dikembalikan. Untung, kondisi Faisal tidak separah Arief, yang dipukuli dengan kayu dan tangan kosong sejumlah mahasiswa teknik dalam mobil patroli polisi. “Saya dipukul bertubi-tubi. Saya tidak tahu berapa banyak yang memukul saya. Pastinya, lebih dari lima orang,” jelas Arief.

Kejadian itu bermula ketika Arief mengambil gambar kebakaran tersebut. Tiba-tiba sekelompok mahasiswa teknik mendatanginya dan melarangnya meliput.

Untuk menghindari keributan, Arief lari. Namun, mahasiswa teknik mengejar. Padahal, Arief sudah memasukkan kameranya. Pria berkacamata tersebut berusaha mencari perlindungan dan masuk ke dalam mobil patroli polisi.

Seorang polisi segera menolongnya dan melarikan mobil itu. Tapi, mahasiswa mengepungnya. Mobil itu lantas hanya merayap pelan. “Kaca mobil tidak bisa ditutup. Akhirnya, saya dipukuli dengan kayu dan tangan kosong. Setelah berhasil menyelamatkan diri, saya dibawa ke sini,” ujar Arief yang mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara Pontianak tersebut. (uni/tin/jpnn/ruk)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s