Wiwid Soewandi ’Boneka’ Keluarga Bakrie Menabur Janji Menuai Kecaman

oleh: prima sp vardhana, prayogi waluyo

Gagal memenuhi janji melunasi komitmen cash and carry pada mayoritas korban lumpur Lapindo, ternyata tidak membuat PT. Minarak Lapindo Jaya terserang rasa malu dan pekiwuh. Perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas yang menangani urusan jual beli aset tanah dan bangunan korban luapan lumpur sumur Banjar Panji ini, justru bersikap kurang simpati dan miskin empati.

Sikap itu ditunjukkan dengan ambisi anak perusahaan keluarga Bakrie ini dengan mengikuti perebutan tahta Bupati Sidoarjo lewat Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), yang rencananya diselenggarakan April 2010 mendatang. Besarnya ambisi tersebut diproyeksikan dengan menurunkan dua calon andalan mereka, yang dilengkapi dana puluhan miliar rupiah sebagai stimulus merebut tahta W-1.
Sosok pertama yang dibiayai adalah Komisaris Utama PT Minarak Lapindo Jaya Gesang Budiarso. Kendaran politik yang rencananya akan ditunggangi adalah Partai Golkar. Ini karena posisi pria berpostur tinggi langsing ini sebagai Sekretaris DPD Golkar Jatim. Kendati demikian, ternyata pria yang gagal dalam Pemilihan Legislatif 2008 ini belum juga berani unjuk gigi secara terus terang. Sikap hati-hati dan menempatkan posisi diri sebagai “kuda hitam” itu dilakukan, karena tertebas hasil survey DPD Golkar Sidoarjo untuk mengetahui tingkat popularitas dan elektabilita tokoh yang akan dijagokan.
Hasil survey dengan metode kuesioner yang dipaparkan Ketua Golkar Sidoarjo, Warih Andono pada pertengahan Januari silam, menunjukkan, Gesang hanya menempati posisi ketiga diikuti Emy Susanty –istri Bupati Win Hendrarso- di posisi keempat. Sedangkan posisi dua besar terpopuler di masyarakat Sidoarjo, adalah Wakil Bupati H. Syaiful Ilah dan Ketua DPW PKB Jatim H. Imam Nahrawi.
Dengan posisi yang tidak menjanjikan itu, maka PT. Minarak Lapindo Jaya mengubah strateginya untuk proyek perebutan tahta W-1. Kali ini sosok yang diharapkan mampu menandingi kepopuleran Syaiful Ilah adalah Direktur Operasional PT Minarak Lapindo Jaya Bambang Prasetyo Widodo. Pria bernama populer Wiwied Soewandi ini diyakini mampu menjadi boneka koalisi perusahaan Keluarga Bakrie, karena secara kebetulan dia anak dari Soewandi, mantan Bupati Sidoarjo pada era 1975-1985. Target kendaraan poltiknya adalah koalisi Partai Golkar, Gerindra, dan PKNU.
Skenario pencitraan sosok Wiwied Soewandi pun digeber tim suksesnya. Proyek pertama yang digelar dengan kemasan dramaturgi, adalah melakukan tebar pesona dan janji manis pada masyarakat papan bawah yang buta ”skenario politik” yang nantinya akan berakhir dengan pepesan kosong. Jadwal yang disiapkan tim suksesnya sangat padat. Bagaimana tidak. Sejak tanggal 16 hingga 24 Februari, pria berkacamata ini harus berakting dalam beragam peran. Berakting sebagai sosok politikus, ia menghadiri acara intern konsolidasi DPC Gerindra Sidoarjo menghadapi Pemilukada Sidoarjo 2010 dan Pemilu 2014 di Hotel Sun City, Sidoarjo, Selasa (16/2) sore.
Malam harinya, berakting sebagai muslim yang (maaf, red) taat dan empati pada masyarakat kelas bawah, Wiwied dengan baju batik dan celana gelap dengan songkok yang kian rutin dikenakan menghadiri pengajian warga di Jl. Airlangga. Pertemuan yang kental atmosfer beribadah itu, dengan liciknya dimanfaatkan untuk menebar pesona dan janji manis untuk meraih dukungan suara dalam pencalonan dirinya.
Setelah itu, berjibun jadwal pencitraan pada masyarakat kecil dilakukan kubu Wiwied. Misalnya dengan melakukan tebar pesona dan janji-janji politik pada masyarakat cilik di daerah Krembung, Tulangan, Wonoayu, dan Kureksari – Waru. Juga, menemui tokoh masyarakat wilayah Krian, Balongbendo dan Tarik di Balai Desa Balongbendo. Selain itu, ia juga melakukan kunjungan mohon restu dan dukungan dengan sowan pada mantan Bupati Sidoarjo, Soegondo.
Kubu Wiwied juga berusaha menarik simpati pada bolamania Sidoarjo, dengan memberikan bantuan sekitar Rp 300 juta pada tim profesional Deltras. Di lain saat, tim suksesnya mengantar Wiwied sowan pada pengurus Paguyuban Mantan Kepala Desa (PMKD) Kab. Sidoarjo di Wonoayu, yang mengklaim diri beranggotakan 650 mantan Kades. Berselang sehari, Wiwied bertemu dengan para tokoh masyarakat dan petani tebu dan guru di gedung Pepabri Krembung.
Setelah disibukkan jadwal tebar pesona, pada 24 Februari posko pemenangan pun di perumahan Pondok Mutiara blok I no 11 Sidoarjo diresmikan. Posko yang diberi nama Media Center Wiwied Soewandi itu tak tanggung-tanggung, peresmiannya dihadiri KH Ali Mustawa, pengasuh Ponpes Sabilul Rosyad Bareng Krajan Krian, yang sekaligus didapuk untuk membacakan doa.
Tidak Pantas
Sepanjang mengikuti kampanye pencitraan diri yang dilakukan Wiwied Soewandi, sepintas lalu sosok putra mantan Bupati Sidoarjo, Soewandi ini mampu memagis sebagian masyarakat yang dikunjungi. Dus, memposisikan dirinya sebagai sosok calon bupati yang paling menjanjikan untuk membawa kemakmuran pada Kab. Sidoarjo.
Padahal semua janji-janjinya yang bernuansa keberpihakan pada wong cilik dengan wacana Tilik Deso, Noto Deso, Mbangun Kuto itu, hanyalah sebuah orasi politik hasil kecerdikan tim suksesnya. Targetnya kecilnya sekadar sebagai magis pengumpul suara dukungan untuk memuluskan ambisi pribadi dan golongan untuk menguasai Kab. Sidoarjo. Sedangkan target utamanya adalah “mengamankan” bisnis keluarga Bakrie yang terancam akibat tragedi sumur Banjar Panji (populer sebagai Tragedi Lumpur Lapindo, red.).
Strategi ambisius yang mendorong Wiwied dalam perebutan tahta W-1 itu terlihat dari skenario yang menggiringnya tampil. Kendati dia menegaskan, bahwa majunya sebagai Calon Bupati dalam Pemilukada 2010 murni dari dorongan pribadi, yang ingin mempebaiki kondisi Sidoarjo yang tersuruk pada titik nadir perekonomian nasional itu.Secara psikologis sangatlah kontroversi dengan fakta yang mencengkeram dirinya saat ini.
Sebagai seorang pribadi, Wiwied adalah pejabat Direktur Operasional PT. Minarak Lapindo Jaya yang bertanggung jawab dalam proses pelunasan tanah dan bangunan milik para korban Lumpur Lapindo. Namun fakta membuktikan, hingga saat ini perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas itu tak mampu memenuhi kewajibannya. Pembayaran yang dilakukan selalu diulur-ulur tanpa rasa bersalah dan dosa. Padahal banyak korban Lumpur Lapindo itu kini menjadi keluarga mbabungan (keluarga yang hidup dengan status fakir miskin dan tak punya tempat tinggal).
Karena itu, beberapa korban Lumpur Lapindo lewat Kus Laksono, Koordinator Tim 16 korban lumpur dari Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I, menilai Wiwied Soewandi tidak pantas memimpin Sidoarjo. Sebab dia dinilai gagal mengurusi persoalan jual beli aset warga korban Lapindo.
“Bagaimana Pak Wiwied mampu mengurus masyrakat Sidoarjo yang jumlahnya jutaan jiwa. Mengurus hak ganti rugi korban Lumpur Lapindo yan jumlahnya ratusan orang saja tidak becus. Kalau ada masyarakat Sidoaro yang mendukungnya itu keblinger tuju tujuh turunan,” katanya dengan senyum sinis.
Hal senada juga disampaikan Muhamad Irsyad, warga Besuki Timur yang tidak masuk peta terdampak. Menurut dia, siapapun sosok yang jadi bupati hasil Pemilukada 2010 tidak akan mampu memberikan perubahan pada nasib korban Lapindo, apalagi terhadap warga yang ada di luar peta seperti warga Besuki Timur. “Lebih-lebih petinggi Minarak juga nanti mencalonkan diri. Peristiwa ini sebuah penghinaan terhadap warga korban Lapindo. Selama 4 tahun kasus Lapindo, mereka tidak memberikan perbaikan, kok mau jadi bupati,” ujar Irsyad meragukan komitmen Wiwied sebagai Calon Bupati yang pro-rakyat.
Sedangkan Muhammad Zainal, warga Renokenongo yang masih belum terbayar sisa pembayaran 80 persen, berpendapat sama. Terhadap semua calon bupati Sidoarjo yang nanti maju, Zainal sangat pesimis. Ia meragkan, bupati terpilih itu akan membawa perubahan bagi Sidoarjo, apalagi untuk masyarakat korban lumpur Lapindo.
“Kalau Pk Wiwied punya komitmen untuk membawa perubahan bagi Sidoarjo umumnya dan warga korban Lumpur Lapindo khususnya, kenapa tidak ditunjukkan dari dulu untuk memberikan bantuan. Sebagai orang awam, saya yakin majunya Pak Wiwied karena pesanan keluarga Bakrie untuk mengamankan bisnisnya di Sidoarjo,” ujarnya.
Berkaitan dengan penyelesaian pembayaran aset korban lumpur Lapindo sendiri, setidaknya masih ada 20 warga Desa Gempolsari yang belum menerima pembayaran, baik 20 persen maupun 80 persen. Selain itu, ada sekitar 59 berkas warga Desa Jatirejo belum menerima sepeser pun. Sedangkan sekitar 300 lebih warga dari 4 desa terdampak masih terkatung-katung soal sisa pelunasan 80 persen. Selain itu, pemerintah hingga saat ini tidak memiliki program khusus terhadap pemulihan pendidikan dan perekonomian korban Lumpur Lapindo selama hampir 4 tahun.
Masalah lain yang berpeluang menggagalkan ambisi Wiwied adalah persoalan kredit macet di Bank Jatim Cabang Sidoarjo. Kredit macet sekitar Rp 3 miliar itu terkait profesi Wiwied sebagai developer salah satu perumahan di daerah Candi. Dengan ambisi sebagai Bupati Sidoarjo, menurut Mbah Ponidi -sesepuh masyarakat Tulangan, seharusnya Wiwied merupakan sosok yang sempurna dan taat hukum.
”Saat ini saja, belum menjadi seorang bupati sudah mengantongi predikat pengkredit macet. Bagaimana nanti nasib masyarakat Sidoarjo ke depannya, kalau Pak Wiwied sudah memiliki kekuasaan. Wah bisa-bisa nasib msyaakat Sidoarjo lebih menderita dari kondisi saat ini,” ujarnya.
Berpijak dari ambisi Wiwied Soewandi yang ingin merebut tahtah W-1 dengan ketidakmampuan dalam membantu korban Lumpur Lapindo. Juga, beragam kekurangannya sebagai seorang pribadi dan pengusaha. Tak pelak lagi, para korban Lumpu Lapindo bersama masyarakat Tulangan, Krian, Wonoayu, Porong, Tanggulangin dan kecamatan lain yang akan merapat sepakat melakukan penghadangan terhadap ambisi Wiwied untuk menjadi Bupati Sidoarjo.* ima/pw1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s