Setelah 2,5 Tahun Terbakar Pasar Turi Tak Kunjung Berdiri

oleh: rokimdakas

Setelah hampir 2,5 tahun berselang teka-teki penyebab terbakarnya Pasar Turi Surabaya masih belum terjawab. Meski tanpa dilengkapi keterangan motif dan pelaku pembakaran dari kepolisian namun PT. Askrida mencairkan asuransi kerugian senilai Rp. 8,4 miliar dari total nilai aset Rp. 78,9 miliar. Kejanggalan itu seakan melengkapi misteri Pasar Turi yang tak kunjung berdiri.
Para saudagar tentu akrab dengan Pasar Turi, pasar grosir terbesar di wilayah timur ini sampai sekarang belum ada yang tahu secara pasti kapan tepatnya pasar kebanggaan Surabaya ini berdiri. Sebuah foto koleksi KITLV milik pemerintah Belanda di Leiden menunjukkan pada tahun 1900 Pasar Turi hanyalah berupa tanah lapang.
Ketika itu para pedagang dan pembeli bertransaksi menggunakan sistem barter. Disebut Pasar Turi karena ada pohon turi yang menaungi aktivitas perdagangan di siang bolong. Kemudian di lokasi tersebut dibangun dengan sistem los satu lantai dan sejak itu hingga sekarang telah mengalami kebakaran sebanyak tiga kali pada tahun tahun 1950, 1978 dan 2007.
Tentang kebakaran terakhir ini tampaknya mengundang polemik dan penuh kontroversi. Kapolda Jatim saat itu, Irjen Pol. Herman Soerjadi Sumawiredja, tiga bulan setelah terjadinya kebakaran menyatakan bahwa Pasar Turi sengaja dibakar. Hanya saja hingga hari ini polisi belum mengetahui secara pasti siapa pelaku dan apa motif di balik pembakaran itu.
Saking lamanya kasus ini mengendap hingga nyaris terlupakan. Namun di awal tahun 2010, anggota DPRD Kota Surabaya kembali mengangkat kasus ini ke permukaan setelah mengetahui bahwa ternyata diam-diam Pemkot telah menerima asuransi ganti rugi kebakaran Pasar Turi dari PT. Asuransi Bangun Askrida atau biasa disebut PT. Askrida. “Itu berarti kepolisian telah mengetahui penyebab kebakaran pasar turi dan menetapkan tersangkanya,” teriak Agus Santoso, Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya penuh tanya.
PT. Askrida hanya memberi asuransi kerugian senilai Rp. 8,4 miliar dari total nilai aset Rp. 78,9 miliar yang dimiliki Pemkot atas Pasar Turi. “Tak salah lagi, Pasar Turi sengaja dibakar sendiri oleh Pemkot (Surabaya) dengan motif untuk mencairkan sekaligus menggelapkan ganti rugi asuransi,” komentar Soetikno, aktivis jebolan ITS.
Pada 22 Agustus 2006, atau sebelas bulan menjelang Pasar Turi terbakar di tahun 2007, Pemkot Surabaya mengasuransikan 100% aset miliknya senilai Rp. 78 miliar kepada PT. Askrida, yang ternyata belakangan diketahui Pemkot juga ikut memiliki saham di perusahaan itu walaupun nilainya kecil sekali.
Menurut pakar hukum bisnis, Prof. Dr. Zaidun, SH, MSi, sebenarnya itu sah-sah saja karena belum ada aturan khusus semacam Undang-undang yang melarangnya. Ia memberi contoh sejumlah perusahaan milik BUMN yang ternyata juga banyak yang lebih memilih mengasuransikan asetnya ke perusahaan asuransi yang di dalamnya ikut memiliki saham. “Terlebih, dalam kasus Pemkot dengan PT. Askrida, saham yang dimiliki Pemkot tidak terlalu besar. Saya yakin akan ditentang dengan pemilik saham yang lebih besar lainnya jika ada gelagat Pemkot ingin meraup keuntungan pribadi dari perusahaan ini,” tandasnya.
Dekan Fakul Hukum Universitas Airlangga tersebut mencium gelagat yang tidak benar dalam pencairan asuransi. Pertama, bagaimana bisa klaim ganti ruginya hanya dibayar Rp. 8,4 miliar dari total aset yang diasuransikan senilai Rp. 78 miliar. Padahal kenyataannya kebakaran itu telah meludeskan seluruh bangunan Pasar Turi. Kedua, bagaimana bisa klaim asuransi itu cair sementara pihak kepolisian belum pernah membeberkan penyebab kebakaran Pasar Turi yang terjadi di tahun 2007 silam itu.
“Khusus masalah kebakaran, perusahaan asuransi selalu menunggu hasil ketetapan polisi tentang penyebab kebakaran sebelum kemudian mencairkan klaim ganti ruginya,” ungkap Zaidun lebih lanjut, kejanggalan ini perlu ditindaklanjuti dengan penyidikan.
Di tengah polemik tersebut, Pemkot Surabaya pada medio Januari silam menetapkan PT Gala Bumi Perkasa (GBP) sebagai pemenang lelang pembangunan Pasar Turi Surabaya senilai Rp1 triliun. “Semua prosedur telah dilakukan sesuai mekanisme,” kata Muhlas Udin, Asisten II Sekkota Surabaya.
Hampir tiga tahun ternyata belum juga tampak tanda-tanda dimulainya pembangunan Pasar Turi. Jika selama itu pejabat tak pernah telat menerima gaji, fasilitas dan intertain maka lain halnya dengan para pedagang Pasar Turi, setelah kehilangan stan jangan sampai kehilangan kesabaran.* kim/pw1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s