Pecinta atau Penjahat Satwa ?

Penulis : prayogi waluyo
Banyak orang yang mengaku pecinta satwa. Namun yang dilakukan tak ubahnya seperti “penjahat satwa” yang justru merugikan lingkungan hidup. Padahal kalau sedikit saja mau menyadari dari berbagai data hasil penelitian menunjukkan betapa satwa liar selama ini sudah dalam kondisi yang sangat amat memprihatinkan.
Jika menilik data hasil pantauan KSBK – Konservasi Satwa Bagi Kehidupan sebuah LSM yang selama ini sangat radikal terhadap perusakan lingkungan, khususnya terhadap satwa liar banyak menyajikan data hasil pantauannya.
Angka – angka yang seharusnya yang seharusnya dilindungi Undang – Undang ternyata begitu mudah didapat dari sejumlah pasar burung yang ada di Indonesia. Hal ini harus segera disikapi dengan tegas agar tidak terus berlangsung.
Harus diingat!.. Bahwa Indonesia sangat kaya ragam satwa liar yang sudah diakui oleh dunia Internasional. Indonesia mempunyai hutan tropis yang menjadi habitat bagi sekian banyak satwa yang endemik alias hanya hidup dan hanya ada di Indonesia.
Namun kekayaan tersebut akan cepat musnah dan itu sudah berlangsung selama ini. Burung – burung yang berkicau dengan indahnya itu, sesungguhnya punya peranan penting dalam habitat di hutan. Banyak serangga yang dimakannya, yang berarti sangat membantu proses penyerbukan dan penanggulangan hama tanaman.Tetapi dengan banyaknya penangkapan berarti merusak lingkungan dan menganggu keseimbangan alam.
Flora dan fauna merupakan dua unsur kehidupan yang tidak bisa terpisahkan dan saling tergantung didalam mempertahankan keberadaanya di bumi ini. Kemudian suasana alam penuh tumbuhan dengan warna warni bunga dan aroma. Tidakah kondisi seperti menjadi sebuah keinginan dari sebuah masyarakat khususnya yang tinggal di perkotaan.
Mencintai satwa tidak harus dengan jalan mengurungnya di halaman atau di rumah kita. Pengamatan langsung di habitat merupakan alternatif yang sangat baik demi tetap terjaganya populasi satwa liar yang tetap berada di habitat yang sangat dibutuhkan.
Kita sering merasa menjadi penyelamat dengan mengkerangkeng satwa di rumah kita, padahal pemahaman tentang satwa tersebut sangat minim. Belum lagi kemungkinan menyebarnya penyakit – penyakit yang dapat ditularkan oleh satwa tersebut sehingga pasti akan merugikan manusia.
Lantas bagaimana dengan sebuah slogan tentang upaya penangkaran ? Kata penangkaran menjadi mudah diucapkan di kalangan yang menyatakan bahwa mereka adalah peduli terhadap pelestarian. Penangkaran bukan satu-satunya solusi pelestarian mengingat jika penangkaran tidak dimbangi dengan kemampuan justru sebaliknya akan merusak poluasi burung yang ditangkarkan itu sendiri.
Upaya penangkaran yang makin giat dilakukan oleh kalangan penghobi memang dikatakan berhasil masih belum. Sebab untuk mendukung keberhasilan tidak mudah. Dan memerlukan tenaga yang terampil dalam menekuni bidang baik dibidang peternakan, kesehatan dan biologi selain itu harus didukung pengetahuan dan pengalaman.
Memang penangkaran yang mereka lakukan selama ini belum sebanding dengan tingkat eksploitasi yang terjadi di habitat burung itu sendiri. Apalagi yang mereka sebut penangkaran sebatas ekssitu hanya dilakukan di kandang sederhana yang tingkat keberhasilannya masih diragukan. Kalau toh memang berhasil kuantitasnya masih sangat tidak sebanding dengan kegagalannya.
Hanya saja penghobi menginginkan penangkaran itu sebagaimana yang terjadi seperti di habitatnya. Namun apapun kenyataannya masih patut mendapat acungan jempol, mengapa demikian? Sebab mereka melakukan aksi riil bukan hanya menjual slogan pelestarian saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s