Karyawan PT. Summit Otto Finance Berlagak Preman, Keroyok Wartawan saat Liputan

uplouder : prayogi waluyo

suasana-negosiasi-nasaba-dengan-pihak-pt-summit-otto-finance-yang-diabadikan-sehingga-memicu-pengeroyokan-kepada-wartawan-memorandum-jek.

Mojokerto, Memo
Mujiono yang akrab dengan panggilan ujeck (30), wartawan Harian Pagi Memorandum Biro Mojokerto, menjadi korban penganiayaan karyawan, PT. Summit Otto Finance, perusahaan pembiayaan kredit sepeda motor.

Mujiono dianiaya saat meliput kasus penarikan paksa sepeda motor milik seorang yang diketahui bernama, Ahmad Ali. Tragisnya, penganiayaan itu terjadi di depan dua petugas Sat Reskrim Polresta Mojokerto, Rabu (24/8).
Penganiayaan terjadi sekitar pukul 12.30, Berawal ketika Mujiono hendak meliput kasus korban penarikan paksa motor kredit yang melapor ke Mapolresta Mojokerto.

Korban saat itu bersama dua anggota Reskrim, dan Saiful Amin wartawan MetroTV, M Khasni Wartawan Surabaya Pagi sertaWisnu Joedha wartawan media online lokal mendatangi kantor PT Summit Otto Finance di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto.di kantor Otto Finance.
Mujiono dan 3 rekannya ini berniat meliput Ahmad Ali (35), korban pencabutan kredit motor dengan pihak Otto Finance yang dimediasi pihak Kepolisian Resort Mojokerto Kota.
Saat terjadi adu mulut antara pihak Otto Finance dengan korban perampasan motor digedung lantai 3 Otto finance, Mujiono bermaksud mengambil gambar kejadian tersebut.
Saat tengah mengambil gambar peliputan, Mujiono tiba-tiba dilarang dan dikejar, selain itu ujeck langsung diusir paksa beberapa orang karyawan Otto Finance. Satu pelaku tersebut bagian pengaduan di Otto Finance yang belum diketahui identitasnya bersama orang berpostur tinggi mengejar Mujiono.
Selanjutnya, kamera dan kartu pers Mujiono sempat dirampas beberapa karyawan leasing tersebut. Namun Mujiono mempertahankan. Bahkan gantungan kartu pers melilit leher Mujiono hingga mengakibatkan memar dilehernya.
Selain itu mujiono yang akrab disapa ujeck, tetap mempertahankan kamera dan kartu pers. Dengan posisi terjepit di antara sekitar 10 orang lebih mereka menyerbu dengan memaksa untuk meminta kartu pers ujeck.
“Dia menarik kartu pers saya dan hendak merampas kamera hingga leher saya memar. Ada perkataan mana kartu persnya. Tolong jangan dibuat berita dan fotonya. Namun saya tetap mempertahankan, walaupun mereka memaksa sekalipun,” kata Mujiono kepada sejumlah wartawan saat melaporkan kejadian tersebut di Sentra Pelayanan Kepolisian Polres Mojokerto Kota.
Melihat peritiwa itu, secara spontan, rekan ujeck yang bernama, M Khasni dan Saiful Amin berusaha memisah kericuhan tersebut dari lantai 3 hingga tangga lantai 2. Namun, keduanya juga dipithing (dirangkul dibagian leher) oleh karyawan Otto hingga tak bisa bergerak.
Bahkan lebih parahnya lagi, Saiful Amin sempat dipiting lehernya, bahkan Saiful melihat kondisi ujeck yang dikepung beberapa orang, ujeck tetap mempertahankan Kamera dan pres card nya.
“Ayo dientekno neng kene wis (ayo dihabiskan di sini saja sekalian, red). Leher saya juga dipithing kok. Kalau saya tetap mengambil gambar, bisa-bisa Ujeck dihajar habis, Saat itu saya langsung berteriak keras, tolong hentikan karena saya melihat ujeck sangat ketakutan dikeroyok dengan jumlah yang tak seimbang,” kata Saiful Amin.
Disaat ketegangan antara para wartawan cetak dan elektronik dengan karyawan Otto Finance terjadi, dua anggota Reskrim masing-masing, Atok dan Muhlisin yang saat itu ikut memediasi, kemudian melerai dan membawanya ke kantor polisi. Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan kasus ini dan baru menerima laporan dari korban dan akan menindak lanjuti laporan tersebut.
“Kita akan panggil saksi-saksi untuk dimintai keterangan, Selain itu kita akan mempelajari kasus tersebut, ” kata Kasat Reskrim Polresta Mojokerto, AKP Luwi Nur Wibowo kepada Wartawan.
Terpisah, Kuasa Hukum Biro Memorandum Mojokerto, Welly Arudji Kadukat, SH. mengatakan, bahwa kasus ini harus segera diproses secara hukum dan pelaku harus secepatnya diperiksa.
‘’ Kita tidak terima wartawan diperlakukan secara kasar dan tidak berprikemanusiaan, itu jelas melanggar pasal 4 UU No 40 tahun 1999 tentang pers, yang intinya menghalang-halangi kegiatan jurnalistik. Selain itu, unsur perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman terhadap korban itu jelas-jelas ada,’’jelas Welly kepada Memo, kemarin (24/8) petang.(jek)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s