Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan, KAPAL Minta Guru Ikut Tanggung Jawab


Mojokerto, Memo
Tanggal 26 Desember 2004, bencana tsunami meluluh-lantakkan tanah Aceh. Maka persis 7 tahun setelah peristiwa dahsyat itu, para guru diminta peran sertanya dalam mensosialisasikan mengenai pentingnya mengenali, memahami, dan melakukan tindakan tanggap darurat terhadap bencana. Bukan hanya itu, guru juga perlu memimpin gerakan pencegahan bencana alam.
Sebagai pendidik yang memiliki peran strategis, maka para guru memiliki tanggungjawab besar dalam melakukan sosialisasi tentang bencana alam. Bahwa Indonesia ini sudah menjadi negara yang kaya bencana, namun masih sangat banyak orang yang tidak mau belajar dari berbagai bencana tersebut. Manakala bencana dipelajari dengan baik, maka sekiranya tidak dapat dicegah, setidaknya dapat meminimalisasi jumlah korban yang timbul.
Pakar bencana alam dari ITS Surabaya, Dr. Amien Widodo mengemukakan hal itu dalam acara Kenduri Agung Guru Pengabdi Lingkungan di PPLH Seloliman, Trawas, dalam acara yang diselenggarakan oleh Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan (KAPAL) Jatim, Selasa (27/12).
Dalam kesempatan yang sama juga berbicara Dr. Suparto Wijoyo (ketua KAPAL Jatim), Totok Nurdianto (Yayasan Mitra Alam Indonesia), Suparlan (WALHI Yogyakarta), Miftahul Luthfi (Pesantren MTI Surabaya), Dra. Ec. Endah Nurhayati (LSM Bangun Pertiwi) dengan moderator Henri Nurcahyo.
Amien mencontohkan, bahwa bencana gempa bumi yang terjadi di Jepang hanya menimbulkan korban yang sangat sedikit, sementara peristiwa yang sama di Yogyakarta meminta ribuan korban nyawa. “Dan sebagian besar karena tertimpa rumahnya sendiri,” ujar Amien Widodo.
Ahli geologi itu juga menyebutkan, bahwa penggundulan hutan besar-besaran yang terjadi belasan tahun belakangan ini menyebabkan daya tahan tanah sangat rentan sehingga mudah menyebabkan bahaya longsor.
Banyak pohon yang ditebangi bahkan sampai ke akar-akarnya. Karena pohon habis, maka air tanah menghilang, pohon mengering, muncul bahaya kekeringan, kemudian mengakibatkan kebakaran, krisis mata air, erosi, longsor dan banjir bandang.
Totok Murdianto membenarkan paparan Amien Widodo terutama dikuatkan pengalamannya ikut menangani bencana di Aceh. Satu hal yang diapresiasi Totok, bahwa peserta acara ini banyak terdiri dari ibu-ibu. Menurut Direktur YMAI ini, kaum ibu adalah motor pembaruan dan pembangunan.
Berdasarkan pengalaman, prosentase keberhasilannya jauh lebih tinggi dibanding kaum laki-laki. Menjawab pertanyaan seorang guru, penanaman pohon-pohon yang kemudian ditebang lagi karena bernilai ekonomis, Totok menyarankan agar dilakukan penanaman dulu sebelum dilakukan penebangan, sehingga lahan tidak sampai gundul.
Sementara Suparto Wijoyo mengingatkan bahwa keberadaan pepohonan dan lingkungan yang asri dapat berpengaruh terhadap kecerdasan dan keharmonisan rumah tangga. Fakta menyebutkan, bahwa hasil terbaik ujian nasional selama bertahun-tahun hampir tidak pernah diraih siswa dari kota besar.
Begitu pula orang-orang yang tinggal di kota yang penuh dengan pencemaran dari berbagai sumber, menyebabkan mereka suka marah-marah dan membuat hubungan rumahtangga ikut terganggu. Karena itu, seruan untuk menanam, menjaga bumi dan kelestarian alam juga ditegaskan Suparlan, Direktur WALHI Yogyakarta.
“Mulailah dari diri sendiri, dari lingkungan sendiri, dari sekolah sendiri, dari rumah kita sendiri,” ujar Endah Nurhayati, direktur LSM Bangun Pertiwi Surabaya. Puteri Solo yang pernah menjadi Ning Surabaya tahun 1985 ini mengingakan mengenai hablum minannas dan hablum minnallah, namun juga perlu hablum minal “alam”. Jangan hanya menjaga kebersihan kalau ada lomba kampung saja.
Akhirnya, pesan hablum minan nas tadi ditimpali Gus Luthfi, bahwa “nas” (manusia) tadi hidupnya di alam. Jadi, kenalilah alam ini dengan baik. Pelajari dan makanlah makan-makanan yang langsung berasal dari alam, jangan tergantung pangan sintetis hanya demi gaya hidup modern belaka.
Kita perlu bersikap ramah terhadap pepohonan, mereka juga perlu diajak omong. “Bukan hanya menyantuni anak yatim saja, tapi pohon juga perlu disantuni,” ujar pengasuh pesantren MTI ini. (pw1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s