Gubernur Cabut Izin Pabrik Baja

DSC_0660
MOJOKERTO (BM)-Setelah ditentang banyak orang, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengambil langkah tegas untuk menyelematkan situs bersejarah Majaphit di Trowulan. Gubernur yang baru terpilih kali kedua itu memerintahkan Bupati Mojokerto Mustofa yang dinilai sejumlah pihak hanya mengutamakan rupiah untuk segera mencabut kembali izin prinsip yang telah dikeluarkan untuk pembangunan PT Manunggal Sentral Baja.

Pakde Karwo, demikian Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur itu biasa disapa, meminta hendaknya Bupati Mojokerto tidak takut menanggung beban perdata yang akan timbul sebagai akibat dari pengambilan kebijakan kontroversial itu. “Pembatalan (izin) itu boleh dilakukan karena prinsipnya demi kepentingan umum dan negara,” kata Soekarwo kepada wartawan, Jumat (18/10), di Surabaya.

Dia menyatakan, saat ini yang mendesak dilakukan adalah menghentikan proses pembangunan. “Yang terpenting saat ini, bagaimana rencana pembangunan itu dibatalkan. Kalau soal perdata, akan dibicarakan lebih lanjut dengan Pemkab Mojokerto dan Pemprov Jatim,” demikian keterangan Soekarwo.

Entah apa pertimbangannya, tapi Bupati Mojokerto gegabah memberikan izin pembangunan pabrik baja tersebut. Padahal, dia tahu Pemerintah Pusat maupun Pemprov Jatim sangat berkepentingan untuk menjadikan Trowulan sebagai taman cagar budaya situs Majapahit.

Akibat izin yang dikeluarkan Mustofa kepada pengusaha besar itu, kemegahan Trowulan sebagai sebuah situs pusaka yang diakui dunia terancam rusak. Kebesaran kerajaan Majapahit yang banyak diceritakan dari sumber–sumber Jawa Kuno, Cina, dan Eropa tersebut, bisa jadi hanya akan tinggal goresan tinta. Bahkan kerusakan dan perusakan terus terjadi hingga hari ini.

Untuk diketahui, meski ditentang banyak orang, Bupati Mustofa ternyata masih nekat menerbitkan izin mendirikan pabrik baja PT Manunggal Sentral Baja. Yang mengenaskan, pemberian izin oleh Bupati Mojokerto tersebut ternyata untuk membangun pabrik yang letaknya persis di kawasan situs Majapahit di Jalan Raya Mojokerto – Jombang, Trowulan, Mojokerto, alias jantung Kota Mojopahit kala itu.

Perburuan mencari dan menumpuk rupiah membuat Bupati Mojokerto Mustofa mengabaikan pentingnya sejarah. Sejumlah tokoh menghujat langkah Mustofa. Beberapa di antaranya terdapat nama Permadi.

Anggota Dewan Pembina Partai (DPP) Gerindra itu menilai, skenario pendirian pabrik baja itu pasti tak lepas dari peranan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, selaku kepala pemerintahan daerah setempat. Ia mengatakan, Bupati Mustofa pasti sudah meloloskan izin usaha dan operasional pabrik.

“Bupati yang selama ini memiliki kewenangan sehingga pabrik baja itu berdiri. Kami sayangkan. Bupati oleh piro (dapat berapa) dari pabrik? Berapa pun itu, masih tak ternilai dibanding peninggalan Mojopahit. Nilai peninggalan dan peradaban Mojopahit tiada banding,” tutur Permadi yang ikut berunjuk rasa dengan puluhan warga Kecamatan Trowulan di kantor Pemkab Mojokerto, kemarin.

Menurut politisi kelahiran Semarang itu, selama ini pemerintah dinilai tidak memiliki arah kebijakan jelas atas keberadaan situs bersejarah di Trowulan. Mirisnya, kata Permadi, pemerintah hingga kini bahkan belum memasukkan Trowulan sebagai kawasan strategis nasional.

“Masuknya investor pabrik baja ini menjadi contoh jelas cerobohnya pemerintah. Sudah jelas di situ (Trowulan) ada cagar budaya yang sangat penting dilindungi, tapi dibiarkan saja ada pabrik baja berdiri. Jika sudah ditetapkan, semua gedung dan bangunan yang berdiri harus bersih. Semua harus pergi. Mau kantor pemerintah, kantor polisi, apalagi pabrik. Bupati harus mencabut perizinannya, karena berada di kawasan cagar budaya,” tandas pria yang juga menggeluti bidang budaya ini.

Situs Trowulan juga sudah diajukan pemerintah kepada UNESCO sejak 2009 sebagai Warisan Dunia. Permadi menantang semua jajaran pemerintahan untuk berdebat soal aturan melestarikan cagar budaya. Khususnya di Trowulan.

“Apa pernyataan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Kacung Marijan masih kurang. Mari dialog. Mau apa tak ladeni,” kata mantan politisi PDI Perjuangan itu dengan pakaian dan jaket serba hitam dan blangkon.

Puncak kemarahan Permadi pun terlontar dalam bentuk ancaman akan membakar pabrik baja itu jika jadi dibangun di Trowulan. “Jika (pabrik) tetap dilanjutkan, akan kami bakar,” ancamnya.

Atas penolakan keras dari Gubernur, warga dan pemerhati budaya ini, Bupati Mustofa pun dikabarkan akan membatalkan perjanjiannya dengan perusahaan pabrik baja. Janji Bupati mencabut izin pabrik baja itu diungkapkan Dewan Penyantun Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Hasyim Djojohadikusumo. Rombongan BPPI kemarin juga turut mendatangi Mustofa di Kantor Bupati.

“Bupati menanggapi positif dan akan menghentikan serta tidak dilanjutkan. Bupati akan memindahkan pabrik. Ini yang sudah kita sepakati dengan Bupati, jika izin pabrik baja akan distop dan positif tidak berdiri. Ini bukti aspirasi warga diterima Pemkab karena Trowulan merupakan warisan budaya,” katanya. Hal itu berdasar hasil dialog BPPI dengan Bupati Mustofa untuk menyelamatkan cagar budaya di Trowulan.

Terpisah, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur Aris Sofyani menjelaskan, berdasar data yang ada, pabrik yang sedianya dibangun di atas area pabrik lama milik PT Pembangkit Ekonomi Desa memiliki luas 36.728 meter persegi.

Pabrik lama yang sudah ada sejak tahun 1970-an itu bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian. Adapun pabrik baja itu nantinya akan melakukan pengecoran untuk assembling plat baja pada alat-alat berat.

Sebagai informasi, pabrik pengecoran baja yang siap dibangun itu berlokasi di dekat gerbang Wringin Lawang dan Candi Wates Umpak. Di kawasan tersebut, berdiri kokoh beberapa situs peninggalan Kerajaan Mojopahit, seperti Gapura Wringin Lawang. Gapura berupa susunan batu bata merah setinggi 15,5 meter ini adalah akses masuk kota kuno Mojopahit. Adapun Wates Umpak diduga merupakan pondasi bangunan. Selain itu, ada juga patung budha tidur.

Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit dari abad ke-13 sampai 15 Masehi. Kawasan situs ini ditemukan abad ke-19. Luas wilayah Kota Mojopahit kuno sendiri diperkirakan 9 x 11 kilometer persegi. Selain kedua situs itu, terdapat pula Candi Tikus berupa petirtaan atau kolam pemandian ritual yang ditemukan pada 1914.

Nah, pembangunan pabrik baja di kawasan itu dinilai bisa merusak cagar budaya peninggalan Mojopahit itu. Tak heran jika rencana itu mendapat penolakan keras dari warga sekitar dan para pemerhati budaya.

“Izin mendirikan bangunan sudah diberikan Pemerintah Kabupaten Mojokerto,” kata Ribut Sumiyono, warga Desa Wates Umpak sekaligus pegiat budaya di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Selain di kawasan Wringin Lawang, situs peninggalan Majapahit juga ada di wilayah yang lain di Trowulan. Di antaranya, Candi Bajang Ratu yang berbentuk susunan batu bata dengan struktur yang indah setinggi 16,5 meter. Di sisi lain, terdapat kolam segaran yang luasnya sekitar 500 x 800 meter persegi yang ditemukan tahun 1926 dan situs-situs lainnya yang unik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s