Petani Tebu Gempolkerep Digelontor Rp 150 M

teks : prayogi
MOJOKERTO (BM) – Pabrik Gula (PG) Gempolkerep Mojokerto mengalokasikan dana kredit Rp 150 Miliar untuk petani tebu di Mojokerto, Jombang, Lamongan. Alokasi kredit yang dikucurkan melalui 33 Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) diharapkan bisa memenuhi pasukan tebu pada musim giling 2014.

Humas PG Gempolerep, Samsu P mengatakan untuk musim giling tahun 2014, membutuhkan pasokan 11 kwintal tebu dari petani. “ Diharapkan dengan wilayah tebang 13 ribu hektar yang berada dalam wilayah PG Gempolkerep meliputi Mojokerto, Jombang dan Lamongan bisa terpenuhi,” ujarnya kepada wartawan.

Pada tahun 2013, PT Perkebunan Nusantara X (Persero) menargetkan untuk PG Gempolkerep. Meningkatkan produksi gula 82.363 ton atau meningkat 21 persen. Sementara, saat itu kondisi cuaca basah, sehingga harus hasil panen tebu dari petani mengambil dari Malang, Jepara, Rembang, Pati dan Sragen. Sedangkan Untuk musim giling tahun 2012 lalu, PG Gempolkrep mampu menghasilkan 67.696 ton gula.

Samsu P juga menjelaskan, kredit dialokasikan kepada para petani tebu yang sudah memiliki kontrak dengan PG. Setiap petani mendapatkan pinjaman antara Rp 7,5 juta sampai Rp 12 juta per hektar lahan yang ditanami tebu.

“Kredit kita cairkan pada musim tanam tahun 2013 sebagai dana untuk pengadaan bibit, biaya tanam, perawatan, pupuk hingga tebang. Dengan bunga 7 persen dalam satu tahun (satu musim tanam), petani diharapkan bisa mengembalikan kredit pasca musim giling tahun ini,” jelas Samsu.

Menurutnya, musim giling tahun ini akan dimulai tanggal 2 Juni mendatang. Pihaknya menargetkan pasokan tebu dari para petani bisa mencapai 11 juta kwintal dengan kapasitas giling harian mencapai 68 ribu kwintal. Jika target rendemen tebu 8 persen tercapai, maka perkiraan gula kristal yang dihasilkan mencapai 88 ribu ton.

Target ini meningkat tipis dibandingkan realisasi musim giling tahun 2013. Tahun lalu, perusahaan pelat merah yang tergabung dalam PTPN X ini mendapatkan pasokan tebu sebanyak 10,868 juta kwintal dengan kapasitas giling harian 65 ribu kwintal. Pasokan tersebut, sebagian diantaranya berasal dari Malang, Jepara dan Rembang.

“Tahun lalu rendemen hanya 7,22 persen, sehingga gula kristal yang dihasilkan 78,5 ribu ton. Saat itu karena cuaca ekstrim, bulan delapan waktunya tebang malah turun hujan. Tahun ini cenderung bagus tapi masih ada hujan, mudah-mudahan curah hujan tidak terlalu tinggi,” imbuhnya.

Dengan meningkatnya rendemen tebu dan pasokan dari petani, Samsu berharap keuntungan petani dan PG juga meningkat. Untuk rendemen tebu 6 persen, perhitungan bagi hasil efektif (PBHE) adalah 66 persen gula kristal untuk petani, sedangkan 34 persen sisanya bagi PG selaku penyedia jasa giling.

“Jika rendemen tebu 8 persen, tahap pertama rendemen tebu 6 persen petani mendapatkan 66 persen, kemudian 2 persen rendemen sisanya petani mendapatkan 70 persen. Sehingga dengan rendemen tebu 8 persen, maka per kwintal tebu yang digiling petani mendapatkan 5,36 kilogram gula kristal,” paparnya.

Selain dua faktor di atas, keuntungan petani tebu juga dipengaruhi oleh harga gula. Menurut Samsu, harga gula tahun ini hanya Rp 8.160 per Kg. Harga tersebut masih dibawah harga dasar yang ditetapkan oleh pemerintah Rp 8.250 per Kg. “Harapan kami harga gula saat lelang nanti bisa diatas Rp 8.500 per kilogram, kalau Rp 8.500 kita hanya balik modal, apalagi dibawahnya, kita dan petani malah merugi,” ungkapnya. (gie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s