Limbah B3 Dibuang Sembarangan di Bekas Pertambangan Sirtu Mojokerto

teks n foto : prayogi

Lahan bekas pertambangan makin rusak dan dijadikan pembuangan limbah B3 (prayogi)

Lahan bekas pertambangan makin rusak dan dijadikan pembuangan limbah B3 (prayogi)


MOJOKERTO (BM) – Bekas lokasi pertambangan material pasir dan batu di wilayah Kabupaten Mojokerto ditelantarkan dalam kondisi rusak. Belum ada upaya reklamasi dilakukan para pengusaha. Tapi ironisnya lahan bekas pertambangan yang dikeruk cukup dalam dan lebar juga menjadi pembuangan limbah bahan berbahaya beracun – B3.

Pembuangan limbah bahan berbahaya beracun di lahan bekas pertambangan material pasir dan batu (batu) diketahui saat operasi terpadu di Kecamatan Ngoro. Dalam operasi di Dusun Buluresik, Desa Manduro Mangun Gajah, Kecamatan Ngoro, ditemukan gundukan limbah warna putih di lahan bekas pertambangan sirtu.

Limbah cair menyerupai serbuk kertas nampak sengaja dibuang dari atas tebing yang masih satu area dengan lokasi pertambangan yang sedang berlangsung aktifitasnya. Bau menyengat yang dikeluarkan itu tercium dari radius jarak sekitar 100 meter.

Kapolres Mojokerto AKBP Muji Ediyanto, membenarkan adanya limbah B3 yang dibuang di dalam eks pertambangan sirtu milik H. Muhkid asal Trowulan, Mojokerto saat menggelar operasi terpadu. Namun Kapolres menyatakan belum mengetahui asal pembuangan limbah, apakah dari perusahaan luar Kabupaten Mojokerto atau sebuah perusahaan besar di kawasan industri kota besar.

Kapolres menjanjikan untuk mendalami keberadaan limbah. Perihal dari perusahaan mana, siapa pelaku pembuangan serta dampak bahaya yang dikeluarkan. ”Nanti kita telusuri, ini milik siapa?,” tandasnya.

Untuk memudahkan pendalaman, polres akan menggandeng Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto. Dengan menyelidiki lebih detail kandungan limbah yang dibuang. Apakah mengandung bahan beracun berbahaya sehingga bisa menyebabkan dampak kesehatan bagi warga sekitar. Serta menelusuri perizinan dan kepemilikan perusahaan.

Pelanggaran membuang limbah B3 di lahan bekas pertambangan sirtu juga ditemukan di Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, Mojokerto. Lokasi pertambangan sirtu seluas 12 hektar milik Senedi, anggota DPRD Kabupaten Mojokerto periode 2009-2014 ini akhirnya ditutup oleh polisi. Pasalnya selain tidak memiliki izin sejak tahun 2012 lalu, warga sekitar yang terganggu dengan bau limbah dari pabrik kertas PT Tjiwi Kimia, melaporkan praktik ini ke Polres Mojokerto.

Sementara Kepala BLH Kabupaten Mojokerto, Zainul Arifin, menegaskan temuan hasil operasi terpadu di Dusun Buluresik, Desa Manduro Mangun Gajah, Kecamatan Ngoro, melanggar UU nomor 4 tahun dan pasal 102 nomor 32 tahun 2009. “Sesuai pasal 102 UU nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, sebagai pemilik lahan terancam pidana 3 tahun penjara dan denda Rp 3 miliar,” terangnya.

Masih kata Zainul, tanpa uji laboratorium pun sudah jelas limbah di lahan milik Senedi itu limbah B3, karena kementerian lingkungan hidup saat mengeluarkan UU nomo 32 sudah melakukan uji laboratorium dan memilah bahwa limbah yang dihasilkan pabrik kertas kategori limbah B3,” jelas Zainul .

Bahkan Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM) memastikan, masa berlaku izin pertambangan sirtu milik Senedi habis sejak November tahun 2012 lalu. Namun saat menjalani pemeriksaan di Sat Reskrim Polres Mojokerto, Senedi menunjukkan surat izin yang diduga kuat palsu untuk menghindari proses hukum.(gie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s